News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Saham Produsen Chip Semikonduktor Beijing Melonjak 6,8 Persen saat Ketegangan AS-China Meningkat

Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Muhammad Zulfikar
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi chip semikonduktor. Saham produsen chip semikonduktor China melonjak, setelah kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taiwan.

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
 
TRIBUNNEWS.COM, SHANGHAI - Saham produsen chip semikonduktor China melonjak, setelah kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taiwan.

Lonjakan saham produsen Chip China terjadi setelah Senat AS pada minggu lalu mengesahkan Undang-Undang "Chips and Science" untuk bersaing dalam produksi chip semikonduktor.

Dikutip dari Reuters, indeks semikonduktor China naik 6,8 persen ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir pada perdagangan hari ini, Jumat (5/8/2022), membawa kenaikan minggu ini sebesar 14,2 persen, menjadi kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan 2020.

Baca juga: Nancy Pelosi Tawarkan Kerjasama Produksi Chip dengan Taiwan

Meskipun Undang-Undang Chip AS akan membatasi penggunaan teknologi AS yang canggih di China dan mendorong lebih banyak investasi semikonduktor di AS, beberapa investor mengartikan hal ini sebagai kabar baik bagi produsen chip China.

"Pembuat chip domestik akan memiliki peluang besar untuk menggantikan produk impor," kata direktur investasi di perusahaan sekuritas swasta Wanji Asset, Niu Chunbao.

Sementara perusahaan pialang saham di Beijing, Guorong Securities mengatakan Undang-Undang Chip AS berpotensi merangsang perkembangan industri semikonduktor di China.

Saham produsen chip semikonduktor Shenzhen China Micro Semicon Co Ltd, naik 82 persen pada hari pertama perdagangan perusahaan ini di Shanghai.

Raksasa produsen chip semikonduktor China, Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) melonjak 7,1 persen di bursa saham Hong Kong dan 4,4 persen di bursa saham di China.

Namun saat prospek resesi ekonomi global mengancam, harga chip produksi China dinilai lebih mahal dibandingkan produksi dari negara-negara lain.

Baca juga: Samsung Bantah Bakal Hentikan Produksi Chip Exynos

Industri global yang telah bergulat dengan hambatan rantai pasokan selama pandemi Covid-19, saat ini menghadapi permintaan yang lemah karena kekhawatiran inflasi dan resesi mengurangi pesanan chip yang digunakan dalam pembuatan mobil hingga ponsel.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini