News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

OpenAI Mulai Izinkan Konten Khusus Dewasa di ChatGPT per 1 Desember

Penulis: Bobby W
Editor: Whiesa Daniswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI CHATGPT - Foto untuk Ilustrasi ChatGPT yang dibuat pada Rabu (15/10/2025)

Ringkasan Berita:

  • OpenAI mengizinkan konten dewasa di ChatGPT bagi pengguna yang sudah memverifikasi usia,
  • Kebijakan ini muncul setelah gugatan hukum terkait kematian seorang remaja AS akibat diduga pengaruh ChatGPT
  • CEO OpenAI Sam Altman mengatakan kebijakan ini diambil guna merespons isu terkait kesehatan mental secara serius.

TRIBUNNEWS.COM - OpenAI akan mengizinkan konten dewasa bagi pengguna ChatGPT yang telah memverifikasi usia mereka di platform tersebut mulai 1 Desember 2025 mendatang, ungkap CEO Sam Altman pada Selasa waktu setempat (14/10/2025).

Langkah ini sekaligus mengakhiri regulasi sebelumnya yang memerketat konten khusus dewasa pada chatbot tersebut untuk melindungi pengguna yang mengalami gangguan kesehatan mental.

"Saat kami menerapkan pembatasan usia secara lebih penuh dan sebagai bagian dari prinsip 'memperlakukan pengguna dewasa sebagai dewasa', kami akan mengizinkan lebih banyak konten, seperti erotika untuk orang dewasa yang telah terverifikasi," tulis Altman dalam sebuah unggahan di X pada hari Selasa.

Altman menjelaskan bahwa OpenAI sebelumnya membuat ChatGPT "cukup ketat" untuk memastikan kehati-hatian terhadap masalah kesehatan mental.

Namun, pendekatan ini justru membuat chatbot menjadi kurang bermanfaat bagi banyak pengguna yang memiliki masalah kesehatan mental.

Menurut Altman, OpenAI terus berupaya mengatasi risiko kesehatan mental yang serius melalui beberapa perubahan di produk mereka.

Upaya tersebut termasuk pengembangan alat baru yang memungkinkan ChatGPT untuk melonggarkan pembatasan secara aman dalam banyak kasus.

Dalam beberapa minggu mendatang, OpenAI juga akan merilis versi terbaru ChatGPT yang memungkinkan pengguna menentukan nada dan kepribadian chatbot sesuai keinginan mereka.

"Jika Anda ingin ChatGPT merespons dengan cara yang sangat manusiawi, atau menggunakan banyak emoji, atau bertindak seperti teman, ChatGPT bisa melakukannya, tetapi hanya jika Anda menginginkannya, bukan karena kami memaksimalkan penggunaan," ujar Altman.

Sementara itu, Meta yang juga mengelola layanan kecerdasan buatan seperti OpenAI justru menerapkan kebijakan yang berbeda.

Pada hari selasa yang sama, perusahaan milik Mark Zuckerberg ini mengumumkan sistem baru untuk membatasi konten yang dapat dilihat oleh pengguna di bawah 18 tahun di Instagram dan alat AI generatifnya.

Adapun Meta menggunakan filter yang terinspirasi dari sistem penilaian film PG-13.

Latar Belakang Perubahan Kebijakan

Perubahan kebijakan ini muncul setelah OpenAI digugat pada awal tahun 2025 oleh orang tua seorang remaja AS yang bunuh diri karena ChatGPT.

Gugatan diajukan oleh Matt dan Maria Raine, orang tua dari Adam Raine yang berusia 16 tahun.

Perkara di pengadillan ini juga merupakan tindakan hukum pertama yang menuduh OpenAI atas kematian akibat kelalaian.

Adapun keduanya menyeret OpenAI ke jalur hukum dengan tudingan keterlibatan ChatGPT atas kematian yang tidak wajar.

Dalam tindakan hukum atau gugatan serius pertama pada OpenAI tersebut, pasangan asal California ini mengkritik kontrol orang tua yang diterapkan oleh perusahaan yang dipimpin Sam Altman ini.

Adapun kritik tersebut ditujukan kepada klaim OpenAI yang menyebut ChatGPT dirancang untuk mendorong penggunaan chatbot yang lebih sehat

Matt dan Maria Raine menyatakan bahwa klaim tersebut tak terbukti dan OpenAI dituntut karena tidak mengambil langkah cukup memadai untuk menghindari insiden bunuh diri tersebut.

Keluarga Raine juga menyertakan log obrolan antara Adam, yang meninggal pada bulan April, dengan ChatGPT.

Melalui rekaman perbincangan dengan ChatGPT tersebut, terlihat adanya beberapa pesan yang menunjukkan pikiran untuk bunuh diri dari korban.

Namun demikian, respons AI yang diberikan oleh ChatGPT dinilai tak memadai untuk "meladeni" percakapan yang ada dengan pola pikir "dewasa".

CEO OPENAI - CEO OpenAI Sam Altman dalam sebuah wawancara yang diunggah di channel YouTube Y Combinator. Sam Altman tegas menolak tawaran akuisisi perusahaannya senilai 97,4 miliar dolar AS atau setara Rp 1.500 Triliun yang diajukan Elon Musk kepadanya. (Tangkap layar channel YouTube Y Combinator)

Altman kembali menegaskan bahwa keputusan untuk membatasi ChatGPT sebelumnya didasarkan pada perlindungan kesehatan mental.

"Kami sadar hal ini membuatnya kurang berguna/menyenangkan bagi banyak pengguna yang tidak memiliki masalah kesehatan mental, tetapi mengingat seriusnya isu ini, kami ingin memastikan tindakan kami tepat," ujar Altman.

Ia menambahkan bahwa kini perusahaan telah berhasil mengurangi risiko serius terhadap kesehatan mental dan memiliki alat-alat baru yang memungkinkan pelonggaran pembatasan secara aman dalam kebanyakan kasus.

"Pada bulan Desember, saat kami menerapkan pembatasan usia secara lebih menyeluruh dan sebagai bagian dari prinsip 'perlakukan pengguna dewasa seperti orang dewasa', kami akan mengizinkan lebih banyak konten, termasuk erotika bagi pengguna dewasa yang telah diverifikasi," katanya.

Para kritikus mengatakan keputusan OpenAI mengizinkan konten erotika di platform menunjukkan perlunya regulasi yang lebih ketat di tingkat federal maupun negara bagian.

"Lantas bagaimana mereka memastikan anak-anak tidak bisa mengakses bagian ChatGPT yang hanya boleh diakses oleh orang dewasa dan menyediakan konten erotika?" tanya Jenny Kim, mitra di firma hukum Boies Schiller Flexner.

"OpenAI, seperti kebanyakan perusahaan teknologi besar di bidang ini, hanya menjadikan masyarakat sebagai kelinci percobaan." sambung Jenny

Jenny sebelumnya juga terlibat dalam sebuah gugatan terhadap Meta yang menyatakan algoritma Instagram membahayakan kesehatan mental pengguna remaja.

"Kita bahkan belum tahu apakah sistem pembatasan usia mereka akan efektif," tambahnya.

Pada bulan April, TechCrunch melaporkan bahwa OpenAI sempat mengizinkan akun milik pengguna yang mendaftar sebagai anak di bawah umur untuk menghasilkan konten erotika grafis.

OpenAI saat itu menyatakan perusahaan sedang menerapkan perbaikan untuk membatasi konten semacam itu.

Sebuah survei yang diterbitkan bulan ini oleh lembaga nirlaba Pusat Demokrasi dan Teknologi (Centre for Democracy and Technology/CDT) menemukan bahwa satu dari lima siswa melaporkan bahwa mereka atau seseorang yang mereka kenal pernah menjalin hubungan romantis dengan AI.

Di tingkat nasional, Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) juga telah meluncurkan penyelidikan tentang bagaimana chatbot AI berinteraksi dengan anak-anak.

(Tribunnews.com/Bobby)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini