Ringkasan Berita:
- Aplikasi palsu menjanjikan akses riwayat panggilan dan WhatsApp.
- Pengguna diminta membayar untuk data yang ternyata palsu.
- Google telah menghapus seluruh aplikasi dari Play Store.
TRIBUNNEWS.COM - Sebanyak 28 aplikasi Android palsu ditemukan di Google Play Store dan telah diunduh hingga 7,3 juta kali oleh pengguna.
Aplikasi tersebut diketahui menawarkan layanan palsu berupa akses ke riwayat panggilan, log WhatsApp, dan data SMS dari nomor telepon tertentu.
Informasi ini dilaporkan oleh PhoneArena dalam artikel yang dipublikasikan pada 11 Mei 2026.
Penelitian tersebut dilakukan oleh perusahaan keamanan siber ESET yang memberi nama kelompok aplikasi itu sebagai “CallPhantom”.
Menurut ESET, seluruh aplikasi tersebut memiliki pola serupa.
Pengguna dijanjikan bisa melihat riwayat panggilan atau pesan WhatsApp seseorang hanya dengan memasukkan nomor telepon target.
Namun untuk membuka data tersebut, pengguna diwajibkan membayar biaya langganan atau biaya layanan tertentu.
Masalahnya, data yang diberikan ternyata tidak asli.
ESET menemukan bahwa informasi yang muncul hanyalah data palsu yang dibuat secara acak oleh aplikasi.
Nomor telepon, nama kontak, waktu panggilan, hingga durasi percakapan ternyata hanya hasil generate otomatis dari kode aplikasi.
Dengan kata lain, aplikasi tersebut sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengakses riwayat panggilan, SMS, maupun WhatsApp asli milik seseorang.
Baca juga: Apple Terapkan Aturan Baru untuk Aplikasi Judi di Brasil
Salah satu aplikasi pertama yang ditemukan bernama “Call History of Any Number”.
Aplikasi itu menggunakan nama pengembang menyerupai domain pemerintah India, yakni “Indian gov.in”, padahal tidak memiliki hubungan dengan pemerintah India.
ESET kemudian melaporkan seluruh aplikasi tersebut kepada Google pada 16 Desember 2025 karena perusahaan keamanan itu merupakan bagian dari App Defense Alliance.
Setelah menerima laporan, Google langsung menghapus semua aplikasi terkait dari Google Play Store.
Meski begitu, tidak semua korban bisa mendapatkan pengembalian dana. Sebab, beberapa aplikasi menggunakan sistem pembayaran pihak ketiga di luar sistem resmi Google Play.
Mayoritas aplikasi ini diketahui menargetkan pengguna Android di India, yang merupakan pasar smartphone terbesar kedua di dunia.
Beberapa ciri aplikasi tersebut antara lain:
- Menggunakan kode negara India +91 secara otomatis
- Mendukung sistem pembayaran UPI yang populer di India
- Menampilkan screenshot palsu agar terlihat meyakinkan
- Menggunakan notifikasi email palsu untuk memancing pembayaran pengguna
ESET juga menemukan trik lain yang digunakan aplikasi untuk menipu pengguna. Saat seseorang keluar dari aplikasi tanpa membayar, muncul notifikasi palsu yang mengklaim hasil pencarian riwayat panggilan sudah tersedia.
Ketika notifikasi dibuka, pengguna diarahkan ke halaman pembayaran atau langganan.
Harga layanan palsu tersebut juga bervariasi. Biaya termurah tercatat sekitar 5 euro atau sekitar Rp90 ribu, sedangkan yang paling mahal mencapai 80 dolar AS atau sekitar Rp1,3 juta.
Banyak pengguna sebenarnya sudah memberikan peringatan melalui kolom ulasan di Play Store.
Beberapa komentar menyebut aplikasi itu hanya menampilkan nomor acak dan tidak memberikan data asli.
Namun, aplikasi tetap berhasil menarik jutaan unduhan sebelum akhirnya dihapus.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bagi pengguna Android agar lebih berhati-hati saat mengunduh aplikasi, terutama dari pengembang yang belum dikenal.
(Tribunnews.com/Widya)
Baca tanpa iklan