Ringkasan Berita:
- Hanya 13 persen pengguna smartphone tertarik upgrade ke ponsel lipat atau desain baru.
- Harga dan daya tahan baterai masih menjadi alasan utama membeli smartphone baru.
- Lebih dari 10 persen pengguna iPhone disebut tertarik mencoba iPhone lipat.
TRIBUNNEWS.COM - Minat pengguna smartphone terhadap ponsel lipat ternyata masih belum terlalu besar.
Survei terbaru yang dipublikasikan CNET pada 12 Mei 2026 menunjukkan hanya 13 persen pemilik smartphone di Amerika Serikat yang tertarik mengganti smartphone mereka karena desain baru seperti foldable atau flip phone.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi untuk pengguna Apple iPhone.
Media tekonologi 9to5Mac pada 13 Mei 2026 mengatakan bahwa sekitar 14 persen pengguna iPhone mengaku tertarik mencoba ponsel lipat di masa depan.
Hasil survei ini muncul di tengah rumor yang menyebut Apple sedang menyiapkan iPhone lipat atau iPhone Fold atau iPhone Ultra.
Meski begitu, mayoritas pengguna smartphone ternyata masih lebih memprioritaskan faktor praktis dibanding desain baru atau fitur AI.
Hasil survei mengatakan alasan terbesar orang ingin mengganti smartphone adalah sebagai berikut.
- Harga smartphone: 55 persen
- Daya tahan baterai lebih lama: 52 persen
- Kapasitas penyimpanan lebih besar: 38 persen
Sementara itu, fitur AI hanya menjadi alasan upgrade bagi 12 persen responden.
Baca juga: Apple Siapkan Dua Perangkat Ultra, Termasuk iPhone Lipat
CNET menyebut hasil ini menunjukkan bahwa pengguna smartphone belum terlalu terkesan dengan berbagai inovasi terbaru seperti AI generatif maupun desain ponsel lipat.
Padahal, banyak produsen smartphone saat ini terus berlomba menghadirkan fitur AI baru.
Beberapa contohnya meliputi pembuatan emoji otomatis, penghapusan objek pada foto, hingga terjemahan langsung secara real-time.
Selain itu, perusahaan teknologi juga terus mengembangkan desain ponsel lipat seperti Samsung Galaxy Z Fold 7 maupun seri Motorola Razr terbaru.
Namun, menurut survei tersebut, pengguna masih lebih peduli terhadap kebutuhan dasar sehari-hari dibanding teknologi baru yang dianggap tambahan.
CNET juga menemukan bahwa masalah baterai menjadi salah satu keluhan terbesar pengguna smartphone saat ini.
Berikut hasil survei terkait baterai:
- 58 persen pengguna frustrasi dengan daya tahan baterai ponsel mereka
- 31 persen mengatakan baterai tidak lagi mampu menyimpan daya sebaik saat baru dibeli
Laporan tersebut menjelaskan bahwa penurunan performa baterai memang umum terjadi setelah penggunaan dua hingga tiga tahun.
Karena itu, banyak pengguna kini lebih mempertimbangkan smartphone dengan baterai tahan lama dibanding desain baru.
Beberapa model yang disebut memiliki performa baterai baik antara lain:
- OnePlus 15
- Poco F7 Ultra
- OnePlus 13R
- OnePlus 15R
CNET juga menyoroti kenaikan harga smartphone dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai contoh, harga awal iPhone generasi pertama dulu sekitar 600 dolar AS atau sekitar Rp9,8 juta.
Sementara itu, model dasar iPhone 17 kini disebut mulai dari 800 dolar AS atau sekitar Rp13,1 juta.
Di sisi lain, Samsung Galaxy S26 disebut memiliki harga awal sekitar 900 dolar AS atau sekitar Rp14,7 juta.
Menurut 9to5Mac, tingginya harga kemungkinan juga akan membuat iPhone lipat menjadi produk khusus atau niche market.
Bahkan jika Apple benar-benar meluncurkan perangkat tersebut, harga diperkirakan bisa menembus lebih dari 2.000 dolar AS atau sekitar Rp32,8 juta.
(Perkiraan konversi menggunakan kurs sekitar Rp16.400 per dolar AS. Harga resmi di Indonesia nantinya bisa berbeda tergantung pajak dan distribusi.)
Survei CNET sendiri dilakukan bersama YouGov terhadap 2.486 orang dewasa di Amerika Serikat, termasuk 2.407 pengguna smartphone.
Survei berlangsung secara online pada 29 April hingga 1 Mei 2026.
(Tribunnews.com/Widya)
Baca tanpa iklan