TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Warga Kota Surabaya semakin dimanjakan dengan banyaknya tempat memanjakan lidah. Bahkan kini mulai banyak tempat kuliner berbentuk eatery kekinian yang hadir dengan konsep fresh namun menawarkan aneka menu makanan dengan harga terjangkau.
Salah satunya seperti tampak di kompleks tengah kota terdapat Aiola Eatery yang cukup digemari anak muda dan pegawai kantoran di sekutar Pemkot. Bahkan eatery yang berkonsep eco friendly environment mampu melayani seribu porsi dari sekitar menu makanan yang disediakan.
Firda Kusuma, salah satu pengunjung mengaku suka makan di sini lantaran tempatnya yang nyaman. "Lalu pilihan makanannya juga banyak dan enak. Kalau saya suka nasi maduranya karena sambalnya pedas banget," kata pegawai di komplek Pemkot Surabaya ini.
Desain tempat makan di Aiola Eatery di Jalan Slamet 16 memang dibuat sedikit berbeda. Dengan mengedepankan konsep eco, pemilik usaha eatery menjadikan bahan bekas krat minuman untuk tempat duduk. Begitu juga dengan kayu-kayuan yang digunakan.
Ada dua area yang digunakan dalam eatery ini. Outdoor dan indoor. Jika area outdoor dominan dengan unsur kayu, maka tempat makan indoor di bangunan bersejarah di sana dibuat friendly dengan sentukan aneka mural.
"Selain enak buat makan rame-rame, juga asyik buat foto. Tapi yang nomor satu makanannya enak dan murah," celetuk Aurel salah satu pengunjung yang makan bersama teman-teman satu genknya.
Dari segi menu makanan, pemilik eatery ini sengaja memilih PKL untuk ditarik ke dalam eatery dan melayani pelanggan yang datang. PKL yang diajak masuk ke eatery ini konon dipilih yang sudah terkenal dan memiliki banyak pelanggan fanatik.
Sebut saja Mie Pitik Bang Azat, Bubur Ayam Mang Dudung, Nasi Madura, Batagor dan Siomay bahkan jajan tradisional seperti leker yang sengaja ditarik dari kampung A Universitas Airlangga.
Direktur Utama Aiola Eatery Irmadita Citrashanty mengatakan eatery ini sudah berjalan selama enam tahun. Dua tahun sebelum eatery didirikan tempat ini dikelola sebagai distro.
Namun lantaran banyak tempat yang tersisa mereka nekat mempelopori bisnis eatery di kawasan Surabaya Pusat.
"Sengaja memilih memasukkan PKL karena kami ingin menganggkat level pedagang kaki lima ke tempat yang lebih tinggi. Dan pelanggan bisa makan makanan PKL dengan tempat yang nyaman dan kondisi makanan yang bersih dan terjaga," kata Dita, pada Surya.
Ia menyebut, kini sudah ada 14 tenan yang mengisi eatery mereka. Dengan jumlah mayoritas sebanyak 11 tenannya adalah dari PKL yang dulunya berjualan keliling maupun menetap di pinggir jalan.
Dengan konsep bagi hasil setiap porsinya, PKL diajak untuk masuk dan cukup menyediakan makanan saja. Sedangkan alat makan, dan minuman semua dari pihak pemilik eatery.
"Untuk PKL yang berjualan di sini kami modelnya memang yang jemput bola mencari menu makanan yang digemari dan legendaris. Seperti mie pithik, dulu PKL itu terkenal di kawasan SMA komplek makanya kami tarik, lalu juga bubur ayam Mang Dudung mulanya hanya jualan malam, tapi setelah kami persuasif akhir mau jualan masuk dan buka pagi," katanya.
Meski menu yang disediakan dari PKL, managemen tetap turun tangan untuk memastikan menu yang sampai ke pelanggan sudah terjaga kualitasnya.
Ada quality control yang bertugas untuk mencicipi menu makanan di eatery ini. Misalnya kalau bumbu batagor terlalu kental atau bubut terlalu cair, maka managemen akan melakukan pendekatan ke PKL dan memberi masukan agar menunya diterima dengan baik oleh pelanggan.
"Setiap tiga bulan sekali kami juga melakukan evaluasi marketing mereka. Ada sistem ringking berdasarkan omset yang nantinya bisa menjadi pemacu mereka untuk berkembang," tambah wanita yang juga dokter spesialis kulit ini.
Yang ada di ringking bawah pun bukan ditinggal atau diberi hukuman. Melainkan dibina agar mampu berinovasi dan bersaing dengan pedagang yang lain.
Begitu juga dengan jenis makanan dan harganya. Agar tetap bisa dijangkau sistem muda, harga makanan di sini dibatasi maksimal harga Rp 11 ribu hingga Rp 25 ribu. Managemen tidak ingin menu terlalu mahal lantaran mereka juga melayani sekmen anak sekolah.
Enam tahun berjalan bisnis eatery ini bahkan sudah membuka cabang di Sidoarjo. "Alhamdulillah sekarang omset kita rata-rata per bulan sampai Rp 200 juta," katanya.
Beberapa waktu yang lalu mereka bahkan sempat didatangi Pemkot untuk diajak kerja sama mengembangkan sentra kuliner milik pemerintah yang juga berkonsep eatery dan menggandeng PKL.
Selaiin itu dari segi desain tempat, ia mengamini bahwa selama ini banyak anak muda yang menggunakan tempatnya untuk makan sambil berfoto. Namun ternyata aspek eatery yang instagramable juga dipakai eatery ini namun bukan aspek utama.
"Yang utama tetap rasa dan harga makanan. Kalau untuk pelanggan yang memburu foto, jika makanan tidak enak selesai foto mereka tidak akan kembali. Tapi kalau sebaliknya tentu mereka akan tetap ingin kembali," katanya.
Pendapatan Meningkat
Para pedagang kaki lima yang masuk ke eatery Aiola ternyata merasakan betul perbedaannya dibanding saat masih berjualan di pinggir jalan.
"Dulu kalau masih di jalan, saat hujan, pelanggan sudah pada pulang, nggak ada yang beli, tapi sejak disini saya sudah tidak khawatir," kata Sukun, penjual leker yang sudah setehun bergabung di Aiola.
Jika sebelumnya ia bisa menjual 1,5 kilogram tepung sekarang meningkat menjadi 2,5 kilogram tepung. Atau bisa menghasilkan dan menjual 500 leker.
Begitu jugaa dengan harga lekernya. Saat masih di jalanan ia menjual lekernya Rp 1000 ber biji. Namun di sini Rp 11000 dapat enam leker.
"Alhamdulillah, selain itu mereka juga memberikan inovasi menu. Kayak memberi keju mozarella mereka yang memberi modal juga," kata pria yang sudah 30 tahun berjualan leker di Kampus A Unair ini.
Hal serupa juga disampaikan oleh Iskandar Darojat pemilik Mie Pithik Bang Azat. Ia menyebut mie ayamnya semakin berkembang. Dulu ia biasa berjualan di SMA komplek dan sekitar Balaikota.
Per hari mie ayam bisa dijual sampai 400 porsi. Dengan mie sebanyak 30 kilogram. Padahal sebelumnya maksimal mereka hanya menjual 15-17 kilogram saja.
"Modelnya bagi hasil sebanyak 25 persen per porsi. Tapi kami tidak merasa rugi. Sebab pelanggan yang datang juga pasti merasa lebih nyaman makannya dibandingkan makan di pinggiran jalan," ucap pria yang akrab disapa Bang Ujang ini.
(fz/Fatimatuz Zahroh)
Baca tanpa iklan