News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Grace dan Referendum Equestrian

Editor: Toni Bramantoro
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Nadhira Fatharani dan kuda Jack-D

Oleh: Tubagus Adhi.

GRACE sudah menanti saat Ardi Hapsoro Hamidjoyo, Maria Audira, putrinya, serta Samantha Born dan Nadhira Fatharani tiba di Cijanggel, Parompong. Udara Sabtu pagi Lembang yang dingin namun sejuk menyambut kehadiran mereka di Bandung Equestrian Center (BEC), 'pusat hunian' equestrian milik Ronny Lukito.

Kelelahan setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam dari selatan Jakarta sirna begitu mereka sudah berada di habitatnya. Ya, Ardi sengaja 'naik' ke Cijanggel agar bisa bercengkrama dengan Grace, salah satu kuda andalan milik Ketua Umum PP Pordasi Muhammad Chaidir Saddak. Pemilik Aragon stable itu, Eddy Saddak, memang menitipkan kuda-kuda equestriannya ke berbagai stable, termasuk BEC.

Grace akan menjadi tunggangan Ardi Hapsoro pada kejuaraan Alex Evert Kawilarang Memorial II, pada 14-16 Juni di Pulo Mas. 'Event' ini juga dikaitkan dengan perayaan HUT ke-486 Kota Jakarta, dengan memperebutkan Piala Jokowi dan Ahok, Gubernur dan Wagub Jakarta. 'Event' AEK-II mengawali 'reformasi' dari kelas-kelas yg ditampilkan di seri kejurnas Equestrian Indonesia (Eqina)2013.

Ada peningkatan kelas/nomor untuk senior dan terbuka khususnya di nomor 'show jumping'. Untuk senior, termasuk Ardi, kelas tertinggi 140 meter, dari semula 130. Peningkatan kelas itu membuat para 'riders' harus menyesuaikan diri. Ardi, misalnya, harus ke Cijanggel untuk menemui Grace. Apalagi, peraih medali emas SEA Games 2011 ini belum pernah menungganggi Grace, karena itu ia harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

Selain itu, di AEK-2 pada 14-16 Juni itu Grace akan mendapatkan tantangan berat dari 'Amazing Grace', kuda andalan JN Stud milik Jose Rizal Partokusumo, ketua umum Eqina.

"Ini bukti dari keseriusan kami untuk terus menggelar kegiatan, termasuk menggalakkan program pembinaan untuk rider yunior," ujar Ardi Hapsoro, yang juga sekjen Eqina. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di BEC. Dari situ, Nadhira mencoba menaklukkan 'Jack Daniels', di Lembang Asri stable.

"Ini kali kedua saya berlatih bersama Jack-D setelah miinggu lalu," kata Nadhira, mahasiswa S-2 fakultas psikologi UI.

INTERVENSI

Ardi Hapsoro, dan juga para pemangku dan pelaku equestrian lainnya, hingga saat ini mencoba untuk tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Mereka juga seperti tak terpengaruh dengan adanya tekanan sehubungan dengan keinginan Menpora Roy Suryo untuk 'menyatukan' equestrian, yang disebutnya 'terbelah dua' antara Eqina dan EFI. Menpora disebutkan sudah memberikan restu kepada KON Pusat guna menyelenggarakan Munaslub penyatuan equestrian terse but.

Kendati demikian, Roy Suryo mungkin saja merasa ada yang tak beres dengan apa yang terjadi sekarang, termasuk penolakan terhadap pemberian status sebagai National Federatiom (NF) dan anggota Federation Equestre Internationale (FEI) kepada EFI. Di satu sisi, masalah 'legalitas' EFI sebagai anggota FEI sudah dibawa dalam sidang arbitrase, menyusul gugatan yang diajukan Pordasi ke BAKI terkait rekomendasi yang diberikan KOI pada FEI.

Di sisi lain, penunjuklkan KON Pusat sebagai pelaksana Munaslub, juga menuai kontroversi besar. KON dinilai tidak akan bisa bersikap fair, adil dan jujur dalam merangkul komunitas equestrian nasional. Pasalnya, KON sudah lebih dulu mengakui keanggotaan EFI pada Rapat Umum Anggota (RAT) 21-22 Februari di Bandung yang 'cacat hukum' karena tidak sesuai prosedur. Oleh karena itu, mustahil KON Pusat bisa bertindak sebagai 'tuan rumah' yang baik.

Lebih dari itu, mayoritas komunitas equestrian menganggap bahwa sebaiknya penyelesaian masalahj equestrian seyoguanya diselesaikan oleh masyarakat equestrian sendiri. Bukan oleh Menpora atau KON. Peran Menpora dan KON hanya sebatas memfasilitasi dan memediasi. Bukan justru melakuklan langkah dengan indikasi intervensi. REFERENDUM. Mayoritas pelaku equestrian menyatakan, saat ini yang terbaik adalah melakukan referendum terkait keberadaan equestrian di Pordasi. Apakah sebaiknya tetao di Pordasi, atau keluar, dan otonom.

Setiap peristiwa selalu ada penjelasannya, mengapa peristiwa itu terjadi. Dulu, ECI berdiri karena itu organ di dalam Pordasi yang sejak tahun 2000- an diberi otonomi khusus oleh Pordasi dengan langsung menjadi anggota FEI. ECI mandiri, mencari dana sendiri, tdk memperoleh dukungan dana dari Pordasi maupun KON, papar Alex.

Sementara itu, EFIi berdiri karena pengurus Pordasi selama periode 1998 sampai 2008 terlalu fokus kpd pacuan, equestrian kurang diperhatkan sehingga masyarakat equestrian ingin mandiri dan meminta kepada Pordasi melepaskan ECI untukk mandiri. Tapi, Pengurus Pordasi tidak merespon positif, dan malah membekukan kepengurusan ECI sehinggapengurus ECI melikuidasi ECI dan membentuk federasi baru namanya EFI dan berafiliasi ke FEI.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini