Oleh: Xavier Quentin Pranata, penulis buku dan kolom
MESKIPUN bukan gibol, hati saya ikut bersorak saat timnas Indonesia berhasil membobol gawang Bahrain.
Mengapa?
Sehari sebelumnya, pelatih timnas Bahrain, Dragan Palajic, menyindir Indonesia dengan fakta yang memang fakta.
Saya sudah banyak menonton pertandingan Indonesia.
Setiap menonton, saya melihat ada 23 pemain baru, tapi bukan dari Indonesia, mereka dari Belanda dan dari Inggris, ujar Palajic datar, tapi sanggup membuat hati orang Indonesia bergetar.
Kita sering mendengar seorang yang berlagak bijak berkata, "Gak apa-apa asal kritikan yang membangun." Benarkah kritikan itu bisa membangun?
Menurut saya tidak.
Kritikan membuat kita marah.
Masukan yang disampaikan dengan cara eleganlah yang membangun.
Bagaimana dengan sindiran?
Adakah sindiran yang membangun?
Menurut saya ya, tetapi membangunkan macan tidur.
Aksi bisa beragam, mulai yang simpatik sampai bikin rematik.
Respon kita terhadap kritiklah yang membedakan hasilnya.
Di antara berbagai macam definisi, saya paling suka penjelasan Widyamartaya dan Sudiati.
Menurut mereka, kritik adalah proses pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat akan sebuah karya, dan pertimbangan yang adil terhadap baik dan buruknya kualitas, nilai, dan kebenaran suatu karya.
Meskipun diambil dari ranah sastra, namun definisi ini bisa kita pakai di dunia bola.
Saya rasa pelatih Bahrain kehilangan ini.
Dari pengamatan sesaat, dia sudah menjatuhkan palu penghakiman yang sialnya benar.
Namun, saya justru memaknai sindiran Dragan sebagai pelajaran.
Cubitan Palajic sebagai cambukan untuk melakukan yang terbaik.
Apalagi orangnya santun.
Jawaban atas dua pertanyaan ini menunjukkan sikap mental kita.
Kalau hanya ingin menang, bisa jadi kita hanya berfokus kepada bagaimana meraih kemenangan.
Bagaimanapun caranya kita meraihnya.
Intinya goal kita memang kemenangan.
Sebaliknya, kalau takut kalah, kita sudah kalah sebelum bertanding.
Ketika melihat lawan yang tangguh dari klub yang kaya, kita merasa minder duluan.
Sebaliknya, kalau kita punya mental pemenang, seberapa pun besarnya musuh kita, seperti Goliath sekalipun, kita bisa menang.
Buktinya Daud yang bertubuh mungil tidak terintimidasi oleh raksasa yang menjulang.
Saat foto di sebelah patung lilin Yao Ming di Madame Tussauds New York, saya tidak merasa gentar, apalagi gemetar.
Toh, hanya patungnya, namun justru ada kebanggaan yang menggelegar, ada orang Asia yang berprestasi di negara adidaya.
Yao Ming bisa sukses di dunia NBA yang gemerlapan karena di samping posturnya yang menjulang, juga diiringi dengan disiplin, dedikasi, dan didikan super keras dari sistem pelatihan basket di Tiongkok.
Nah, inilah yang seharusnya menjadi PR kita bersama.
Jika kita sudah melakukan perekrutan sejak usia dini sampai ke daerah-daerah terpencil di Indonesia, bukankah mutiara berharga justru ditambang di lautan yang mungkin tak terjamah?
Pelatihan yang intensif dan profesional serta penghargaan bagi pemain yang berprestasi tak ayal kita pasti punya seabreg pemain andal.
Sebagai dosen yang mengampu mata kuliah Personality Development, saya biasa mengajarkan kepada mahasiswa saya tentang motivasi.
Motivasi adalah passion atau burning desire yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuannya.
Ada orang yang melakukannya karena fear of pain alias takut konsekuensi gagal.
Salah satu akibat kegagalan yang mengerikan adalah perundungan, baik verbal maupun kekerasan fisik.
Anak yang gagal naik kelas bisa saja mendapatkan dampratan sampai hajaran orang tuanya, teguran gurunya, sampai ejekan teman-temannya di sekolah.
Ada yang melakukannya karena hope of reward.
Iming-iming hadiah memang bisa membuat seseorang bergeming, meskipun diejek seribu orang.
Apalagi kalau hadiahnya besar.
Namun, saya paling suka dengan orang yang mau berjuang because of love.
Karena cintanya terhadap bola, terlebih terhadap Indonesia, pemain bola bisa all out agar timnya menang.
Perasaan itulah yang membuncah di hati saya saat dua putra saya antusias menonton pertandingan Indonesia-Bahrain.
Sindiran Bahrain ternyata mampu membuat semburan adrenalin.
Baca tanpa iklan