Oleh : Yudistira Satya Wira Wicaksana, Mahasiswa Magister By Project Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Disunting oleh : Dr Ira Mirawati, MSi, Dosen Magister By Project Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Untuk kritik dan saran hubungi lewat e-mail : yudistira25001@mail.unpad.ac.id
Kerincing gongseng bergemericik berbarengan dengan hentakan kaki. Hingar bingar Sound Horeg turut mendengungkan musik berlirik Jawa dengan sentuhan tradisi.
Dengan kompak, penari banteng bergerak seirama, kepala banteng bergoyang ke kanan dan ke kiri. Ctas! Sesekali suara cemeti terdengar dan membuat mereka larut dalam ekstasi. Performa itu pun memuncak lewat kesurupan massal, simbol histeria dan transendensi.
Demikianlah kira-kira secuplik fenomena bantengan Mberot di Desa Tirtomarto Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Pertunjukan seni tradisi bantengan gaya baru itu tidak hanya bergulir di Kecamatan Ampelgading.
Fenomena bantengan Mberot telah menjamur di Malang Raya. Tari Bantengan yang bagi seniman fundamental dianggap keluar dari pakem itu kian digandrungi masyarakat di desa-desa dan kampung-kampung di tengah perkotaan Malang. Tua, muda, pria dan wanita, berbondong-bondong menjelajah media sosial kelompok-kelompok bantengan untuk memburu jadwal pertunjukan Mberot.
Dan memang, fenomena ini mencengangkan. Sebab, bila dikilas balik 20-30 tahun yang lalu, seni tradisi bantengan yang berdiri di atas pakem, bukanlah pertunjukan yang populer.
Masyarakat Malang medio 1990 sampai 2020 lebih dikenal sebagai pemeluk subkultur suporter sepak bola Arema, ketimbang penggandrung tari tradisional seperti Bantengan.
Namun, kenyataannya, sekarang hampir di setiap kecamatan di Kabupaten Malang, mempunyai grup seni Bantengan Mberot. Tak cuma di kabupaten, grup bantengan modern juga terselip dan eksis di antara kehidupan urban Kota Malang dan ademnya Kota Batu.
Tentu, seperti yang sudah saya singgung, pakem yang digunakan sudah berubah. Perubahan itu terdokumentasi secara ilmiah dari sejumlah penelitian terbaru ilmu seni tari tahun 2025 yang membahas tentang transformasi seni bantengan di Malang.
Belum diketahui pasti kapan fenomena Bantengan Mberot ini lahir. Satu versi mengklaim Mberot lahir karena Covid-19. Versi lainnya menyebut bahwa Mberot menjamur karena Sound Horeg dan absennya sepak bola di Malang akibat tragedi Kanjuruhan tahun 2022.
Tetapi, yang pasti, perubahan itu nyata. Sebagai perbandingan, penelitian tentang seni bantengan di Malang oleh Dinda Nastiti Wahyuningtyas (2025) dalam “Kesenian Bantengan Malang: Memahami Makna Simbolis sebagai Kajian Budaya Lokal”, mengurai berbagai unsur-unsur seni tradisi bantengan. Pertama, adanya penari bantengan.
Kedua, atribut seperti topeng kepala banteng yang mempunyai kerangka badan dari anyaman bambu yang tidak sama dengan kesenian bantengan di daerah lainnya. Kemudian, kostum, cemeti hingga gongseng atau aksesoris gemerincing di kaki. Ketiga, penggunaan gerak tari atau solah. Keempat adanya sesaji. Dan terakhir, musik.
Dalam seni tradisional bantengan, urutan ritual kesenian bantengan adalah adanya doa nyuguh atau sandingan sesaji sebagai ritual wajib pembukaan. Ritual dilanjutkan dengan tari pencak silat, lalu masuk pada menu utama atraksi solah bantengan.
Kesurupan atau trance menjadi puncak ritual dari seni tradisi bantengan, dan ditutup dengan ritual ruwatan oleh pawang banteng untuk mengembalikan kesadaran pemain atau penari bantengan.
Sementara, Bantengan Mberot keluar dari pakem tradisional dengan mengubah beberapa ritual. Dari sejumlah performa Bantengan Mberot Malang yang ditampilkan di media sosial, tari pencak silat sebagai pemanasan jarang atau bahkan tidak diperagakan.
Atraksi diganti dengan koreografi dan formasi bantengan yang seragam dan seirama untuk menarik penonton. Aksi ‘saweran’ bantengan juga kadang dilakukan pada fase ini.
Setelah itu, atraksi solah inovatif yang diiringi musik DJ ala Sound Horeg digelar. Musik atau instrument bergenre dangdut, bahkan elektronik koplo mengiringi performa para penari Bantengan Mberot. Trance atau kesurupan tetap ada.
Namun, dari sejumlah konten di media sosial, penari bantengan tidak benar-benar kesurupan dan lebih bersifat gimmick untuk membuat suasana semakin memuncak.
Fenomena transformasi Bantengan ini bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi juga mencerminkan proses negosiasi makna budaya di tengah masyarakat yang terus berubah. Di sinilah teori hibriditas budaya menemukan relevansinya.
Konsep itu kali pertama dipopulerkan Homi K Bhabha dalam bukunya The Location of Culture. Bhabha (1994) mendefinisikan hibriditas budaya sebagai berikut :
Hibriditas adalah tanda dari produktivitas kekuasaan kolonial yang selalu bergerak dan berubah; ia merupakan bentuk pembalikan strategis terhadap proses dominasi melalui penolakan, yaitu dengan menciptakan identitas-identitas diskriminatif yang menegaskan kemurnian identitas otoritas.
Meminjam konsep Bhabha, hibriditas budaya merupakan proses pencampuran budaya yang terjadi ketika dua budaya (biasanya antara yang dominan dan subversien) berinteraksi, saling memengaruhi dan melahirkan identitas baru yang ambivalen.
Bhabha menolak pandangan bahwa identitas budaya bersifat stabil. Sebaliknya, dia berargumen bahwa identitas budaya bisa berubah dan selalu terbentuk di ruang pertemuan yang disebut sebagai third space atau ruang ketiga.
Bhabha percaya, lewat ruang ketiga, makna budaya selalu dinegosiasikan dalam konteks sosial yang berubah-ubah. Sejalan dengan asumsi itu, dia juga meyakini, kolonialisme dalam budaya, atau bisa disebut juga sebagai hegemoni budaya, tidak hanya menguasai, tetapi juga membuka ruang resistensi dan pembalikan makna.
Asumsi tentang terbukanya resistensi dan pembalikan makna budaya dominan dimungkinkan dengan konsep mimikri.
Yaitu, tindakan meniru budaya penjajah atau penghegemon oleh subjek terjajah untuk memunculkan budaya yang hampir sama tetapi tidak sepenuhnya. Mimikri dalam hibriditas budaya merupakan bentuk resistensi halus yang merusak otoritas hegemon.
Fenomena Bantengan Mberot bisa dideduksi sebagai wujud nyata hibriditas budaya terhadap bantengan tradisional. Sebagai budaya dominan, tesis bantengan tradisional mengalami dialektika makna ketika ditabrakkan dengan unsur antitesis berupa Sound Horeg dan atribut tari yang keluar dari pakem. Globalisasi dan media sosial juga turut memperkuat pembalikan makna bantengan oleh generasi muda.
Bantengan yang memakai musik DJ dengan genre koplo, plus dikontenkan di media sosial, menjadi mimikri dari bantengan tradisional. Kemunculan atribut baru seperti ‘saweran’ pada penari banteng juga semakin menggeser makna hegemoni bantengan tradisional. Dialektika yang terjadi di ruang ketiga atau third space antara bantengan tradisional dan bantengan mimikri melahirkan identitas baru. Proses dialektika antara tesis dan antitesis dalam bantengan ini memunculkan sintesis bernama Bantengan Mberot.
Sintesis ini tak terelakkan. Karena, semakin banyak generasi muda yang menggandrungi Bantengan Mberot. Bagi mereka, seni bantengan ini lebih mudah dicerna dan menghibur. Tentu, dari sudut pandang pelestarian kearifan lokal, kemunculan Bantengan Mberot setidaknya akan menjaga warisan budaya hingga generasi berikutnya.
Bantengan Mberot merupakan bukti bahwa hibriditas budaya bukan sekadar perubahan artistik kesenian. Sintesis ini merupakan hasil negosiasi identitas dan makna tradisi pada era digital dan tantangan global. Lewat hibriditas budaya, Bantengan tetap bisa melestarikan tradisinya, sembari berjalan beriringan dengan inovasi dan dinamika zaman.
Daftar Pustaka :
Bhabha, H. K. (1994). The Location of Culture. London & New York: Routledge.
Wahyuningtyas, D. N. (2025). Kesenian Bantengan Malang: Memahami makna simbolis sebagai kajian budaya lokal. INVENSI: Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni, 10(1), 99–110. https://journal.isi.ac.id/index.php/invensi/article/download/14249/pdf
Baca tanpa iklan