Oleh: Arifatun Nasichah (Mahasiswi S1 Prodi Qur’an wal Hadist Universitas Az-Zaitunah, Tunisia)
Tunisia merupakan negara dengan beragam tradisi dan budaya, yang secara kolektif membentuk identitas dan warna bagi bangsanya.
Kedua pion tersebut telah mengakar seiring dengan lahirnya negara kawasan Timur Tengah ini.
Maka tidak heran, keduanya membentuk struktur sosial masyarakat secara bertahap dari generasi ke generasi.
Tradisi di Tunisia mengikat banyak aspek secara komprehensif, tak terkecuali di bulan Ramadhan.
Tunisia memiliki caranya sendiri untuk serta merta unjuk keunikannya.
Sebagai mahasiswa yang menempuh studi di Tunisia, saya sendiri sangat tertarik pada kebudayaan Tunisia di bulan Ramadhan.
Hal pertama yang perlu diketahui bahwa warga lokal Tunisia memiliki budaya saling memberi, sebuah praktik kebaikan yang tidak kaleng-kaleng.
Mereka tidak segan-segan membagikan kotak makanan untuk berbuka, bahkan mengadakan acara buka bersama.
Penerapannya pun seringkali saya jumpai.
Baca juga: Mahasiswa Indonesia di Tunisia Perkenalkan Budaya Nusantara di Acara Iftar Mahasiswa Internasional
Hal ini tercermin dari kesiapan salah satu universitas yang ada di Tunisia, Universitas Az-Zaitunah, yang membagikan 100 kotak makan bagi mahasiswa Indonesia untuk berbuka setiap harinya. Hal ini menunjukkan semangat filantropis yang tergambar dalam praktik sosial pada bulan Ramadhan di Tunisia.
Kedua, kebersamaan selalu dinomorsatukan.
Tradisi-tradisi negara ini mencerminkan warisan berbagai peradaban yang pernah singgah.
Namun, Ia bukanlah sesuatu yang stagnan, esensinya terus hidup dan berkembang hingga saat ini.
Wujudnya berupa nilai kebudayaan yang sama dengan adaptasi yang dipengaruhi modernisasi.
Hal ini bisa dilihat dari bagaimana warga Tunisia menyibukkan diri pada siang hari.
Mereka akan menyegerakan segala aktivitas yang bisa dilakukan pada siang hari untuk menyelesaikannya dengan cepat.
Menariknya, hal ini diterapkan oleh hampir seluruh masyarakat Muslim agar sore harinya tiba di rumah untuk berbuka bersama keluarga.
Para supir taksi, penjaga toko kelontong, pedagang di pasar, penjual perabotan, para pekerja, mereka akan menyegerakan pulang untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga.
Lalu bagaimana dengan kedai makan, restoran, atau kafe di bulan Ramadhan?
Uniknya, mereka akan tutup di siang hari dan buka di malam harinya.
Bukan fenomena terbalik biasa, justru mereka sedang menunjukkan lapisan budaya Tunisia yang sangat indah.
Sebagaimana adatnya, masyarakat Tunisia akan menutup kedai makanannya untuk menghormati orang yang berpuasa.
Tidak semua negara Muslim melakukan ini, tapi Tunisia adalah salah satu yang menjaga solidaritas sosial ini tetap utuh.
Di sisi lain, sebuah tradisi religiusitas sedang menyeruak seiring berjalannya bulan Ramadhan.
Ia membawa kepercayaan suatu madhab, hingga meresap perlahan-lahan seolah tradisi klasik.
Shalat tarawih dapat dijadikan rujukan dalam hal ini.
Dalam shalat tarawih, warga lokal Tunisia tidak hanya membaca surat pendek setelah bacaan Al-Fatihah, melainkan membaca 1 juz lebih, baik dalam 20 rakaat maupun 8 rakaat shalat tarawih.
Tujuannya agar Al-Qur’an telah khatam pada malam 27 Ramadhan.
Sebagaimana penganut mazhab Maliki sejati, warga Tunisia meyakini bahwa malam Lailatul Qadar tepat berada di malam 27 Ramadhan.
Maka, tak hanya mengkhatamkan Al-Qur’an, pada malam itu Tunisia dihiasi lampu dan dekorasi cantik. Di jalanan kota, di masjid, bahkan di rumah-rumah warga.
Malam 27 Ramadhan menjadi puncak spiritualitas yang paling dinantikan oleh masyarakat Tunisia dan lagi-lagi tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari mereka, bahkan keyakinan pun seperti sebuah tradisi karena selalu hidup dalam kebiasaan mereka.
Dari Tunisia, kita dapat melihat bagaimana solidaritas spiritual mampu menggerakkan masyarakat dan membentuk fabric sosial dari akumulasi sejarah panjang.
Mungkin kita akan menemukan keunikan tradisi yang berbeda di negara lain, tapi Tunisia memiliki caranya sendiri yang membuatnya selalu layak untuk dikagumi.
(*)
Baca tanpa iklan