RAKYAT Indonesia ibarat sedang menghitung suara tokek: Apakah harga BBM bersubsidi akan naik atau tidak?
Itu hanya soal waktu. Cepat atau lambat, niscaya akan naik.
Sebab harga minyak mentah dunia telah naik ke angka US$115 per barel.
Artinya, jika harga BBM bersubsidi tidak naik maka APBN akan jebol. Setiap kenaikan US$1 per barel saja, anggaran subsidi BBM di APBN akan membengkak hingga triliunan rupiah.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bilang Presiden Prabowo Subianto punya hati untuk rakyat sebelum memutuskan harga BBM bersubsidi naik atau tidak. Tapi memimpin negara tidak cukup dengan hati.
Perlu rasio. Sebab itu, pernyataan Bahlil patut diduga sekadar untuk membuat rakyat tenang saja.
Faktanya, Bahlil sendiri panik. Ia ditugaskan Prabowo untuk mengimpor BBM dari negara mana saja, sambil menunggu dua kapal tanker Indonesia bisa melewati Selat Hormuz.
Simalakama
Kenaikan harga minyak mentah dunia terjadi akibat perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Akibat perang itu, dua kapal tanker Indonesia tersandera di Selat Hormuz yang dikendalikan Iran. Yakni PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Teheran menekankan dua poin persyaratan. Pertama, kapal yang lewat harus menentang agresi AS dan Israel terhadap Iran. Kedua, tidak ikut berpartisipasi dalam serangan tersebut.
Iran juga mengelompokkan negara menjadi “hostile states” (negara musuh) dan “non-hostile states” (bukan musuh) untuk menentukan kapal mana yang boleh melintas.
Sejumlah negara yang kapalnya diizinkan melintas antara lain Rusia, China, Pakistan, India, Thailand dan Malaysia.
Indonesia? Kementerian Luar Negeri RI sedang melobi Iran. Kabarnya sudah ada lampu hijau. Benarkah?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, mengapa kapal Indonesia belum boleh melintas, karena Indonesia tidak dianggap sebagai negara kawan. Bahkan mungkin musuh. Mengapa?
Pertama, Indonesia masuk Board of Peace yang diinisiasi Donald Trump.
Baca tanpa iklan