PRESIDEN Prabowo Subianto tetap yakin bahwa kondisi rakyat Indonesia saat ini baik-baik saja. Tak ada masalah.
Ekonomi tumbuh dan terus bergerak. Harga sembako terkendali.
Daya beli masyarakat terjaga. Apalagi pemerintah tak jadi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meskipun terkena dampak perang Timur Tengah.
Plus, hasil lawatan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Amerika di mana World Bank dan Indonesia Monetary Fund (IMF) pun minta maaf karena under estimated terhadap Indonesia. Bahkan Purbaya dengan tegas menolak tawaran utang dari IMF.
Padahal, kondisi riil rakyat Indonesia saat ini bak rumput kering yang siap menyala. Ada provokasi atau percikan api sedikit saja, rumput kering itu akan langsung terbakar dan membara. Betapa tidak?
Harga BBM bersubsidi memang tidak naik. Tapi harga BBM non-subsidi naik. Naiknya pun ugal-ugalan.
Kenaikan harga BBM non-subsidi itu membawa multiplier effect yang luar biasa. Harga sembako langsung naik lagi.
Harga yang sudah melambung jelang Ramadan dan Lebaran kemarin kian melambung saja. Termasuk minyak goreng. Rakyat rumput kering pun akan dengan mudah digoreng.
Ah, seandainya ada pihak-pihak yang mau menggoreng isu, bukan tidak mungkin rumput kering itu akan benar-benar terbakar. Menyala. Membara. Menghanguskan kepongahan penguasa.
Aksi-aksi demonstrasi anarkis akhir Agustus tahun lalu merupakan indikator yang tak bisa dinafikan.
Apalagi jika rakyat melihat para pejabat tetap hedonis hidupnya. Presiden menginap di salah satu hotel termewah di dunia, dan ulang tahun menteri pun menyertainya. Efisiensi anggaran yang selalu digembar-gemborkan pemerintah pun cuma omon-omon belaka.
Banyak pejabat terjangkit kleptomania. Korupsi merajalela. Nilainya tidak lagi jutaan dan miliaran, tapi sudah triliunan rupiah. Akhir-akhir ini banyak kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah.
Program makan bergizi gratis (MBG) jadi bancakan mereka. Beli mobil dan motor ratusan ribu buah. Beli kaus kaki saja miliaran rupiah.
Rakyat kebanyakan cukup menjadi penonton saja. Bahkan korban keracunan yang terus merana.
Banyak rakyat yang sekadar mencari duit sepuluh ribu rupiah saja sudah minta ampun susahnya. Banyak pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kemiskinan masih terus mendera.
Kondisi bertambah parah ketika tertutup sudah saluran-saluran bersuara. Tak ada kanalisasi.
Parpol-parpol membeo penguasa. Suara-suara kritis dibungkam begitu rupa dengan teror air keras dan laporan pidana.
Andrie Yunus disiram air keras matanya. Saiful Mujani, Islah Bahrawi, Feri Amsari dan Ubedilah Badrun dilaporkan ke Polda Metro Jaya.
Banyak pejabat yang pongah dan arogan pernyataannya. Teddy Wijaya, misalnya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan menggejala, suara-suara yang tersumbat itu akan jadi letupan. Ledakan. Luapan.
Air yang terbendung akan membuncah menjadi bah. Rakyat rumput kering pun akan benar-benar menyala.
Prabowo, jangan sampai lengah. Rakyat rumput kering terancam menyala. Mereka harus dihijaukan.
Caranya? Terserah Anda. Mundur bersama Gibran pun tak masalah. Daripada lebih percaya pada pembisik yang ABS saja.
Baca tanpa iklan