News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Idul Adha 2026

Idul Adha di Tengah Dunia yang Terluka

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IDUL ADHA - Idul Adha 2026 hadir di tengah krisis global, mengingatkan manusia pada kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan demi kemanusiaan.
PROFIL PENULIS
KH. Macshoem Faqih
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU; Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban

PAGI Idul Adha tahun 2026 ini datang dengan suasana yang tidak sepenuhnya tenang. Di saat gema takbir berkumandang dari masjid ke masjid, dunia justru dipenuhi kabar tentang perang, ketegangan politik, dan krisis kemanusiaan yang belum juga reda. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus memanaskan situasi global.

Di berbagai belahan dunia, masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, harga kebutuhan pokok yang naik, dan ketidakpastian masa depan yang membuat hidup terasa semakin berat.

Di tengah dunia yang seperti kehilangan ketenangan itu, Idul Adha hadir membawa pesan yang terasa sangat relevan. Hari raya ini bukan sekadar perayaan tahunan atau ritual penyembelihan hewan kurban.

Idul Adha sesungguhnya adalah pelajaran besar tentang bagaimana manusia menjaga hati dan kemanusiaannya ketika dunia sedang dipenuhi ego, ketakutan, dan kepentingan.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan hanya cerita sejarah yang diulang setiap tahun. Ia adalah cermin kehidupan manusia. Sebuah pelajaran tentang kesabaran saat diuji, ketaatan ketika harus memilih jalan yang benar, dan pengorbanan demi sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.

Hari ini, manusia modern hidup di tengah tekanan yang tidak ringan. Banyak orang tampak baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang lelah di dalam.

Ada yang berjuang mempertahankan pekerjaan, ada yang terbebani kebutuhan hidup yang terus meningkat, ada pula yang diam-diam kehilangan harapan akibat tekanan sosial dan keadaan dunia yang terasa semakin tidak menentu.

Dalam situasi seperti itu, Idul Adha mengajarkan tentang kesabaran. Namun kesabaran yang diajarkan bukanlah sikap menyerah tanpa usaha. Kesabaran adalah kemampuan menjaga arah ketika hidup terasa berat. Nabi Ibrahim AS menghadapi ujian yang mengguncang hati seorang ayah. Namun beliau tidak membiarkan rasa takut mengalahkan keyakinannya kepada Allah.

Di zaman sekarang, ujian manusia memang berbeda bentuk, tetapi rasa beratnya tetap sama. Banyak orang mudah marah, mudah putus asa, dan mudah kehilangan kendali karena tekanan hidup yang datang bertubi-tubi. Media sosial dipenuhi pertengkaran, hujatan, dan kemarahan yang sering kali membuat manusia semakin jauh dari ketenangan.

Padahal, kesabaran adalah kekuatan. Kesabaran membuat seseorang tidak mudah hancur oleh keadaan. Ia menjaga manusia agar tetap berpikir jernih ketika emosi sedang penuh. Kesabaran bukan berarti diam tanpa ikhtiar, tetapi tetap menjaga hati agar tidak kehilangan arah meski jalan terasa berat.

Selain kesabaran, Idul Adha juga mengajarkan tentang ketaatan. Dalam kisah Nabi Ibrahim AS, ketaatan bukan hanya ritual ibadah, melainkan keberanian untuk tetap berada di jalan yang benar walaupun harus melawan keinginan diri sendiri.

Dan justru di zaman sekarang, ketaatan menjadi sesuatu yang semakin sulit dijaga. Dunia modern sering mendorong manusia untuk mengejar hasil instan, kenyamanan cepat, dan keuntungan pribadi. Banyak orang tergoda mengambil jalan pintas meski harus mengorbankan kejujuran dan amanah.

Kita melihat bagaimana perebutan kepentingan dan ambisi kekuasaan membuat dunia semakin gaduh. Perang yang terjadi bukan hanya menghancurkan gedung dan kota, tetapi juga menghancurkan rasa aman manusia. Yang paling merasakan dampaknya justru masyarakat kecil: harga kebutuhan meningkat, lapangan kerja terganggu, dan kehidupan menjadi semakin tidak pasti.

Dalam kehidupan sehari-hari, ujian ketaatan hadir dalam bentuk yang sederhana namun sangat dekat. Saat seseorang tergoda berbuat curang di tempat kerja, mengabaikan amanah, atau memilih keuntungan sesaat meski merugikan orang lain. Idul Adha mengingatkan bahwa iman tidak cukup berhenti pada simbol dan ucapan. Ia harus tampak dalam sikap hidup: jujur, bertanggung jawab, disiplin, dan menjaga hak sesama.

Pelajaran berikutnya adalah tentang pengorbanan. Dan mungkin inilah nilai yang paling sulit dijalani manusia modern. Sebab dunia hari ini cenderung mengajarkan manusia untuk terus mengambil, bukan memberi. Banyak orang ingin menang sendiri, mempertahankan ego, dan sulit mengalah demi kepentingan bersama.

Padahal inti dari Idul Adha adalah kesediaan mengorbankan ego demi kebaikan yang lebih besar. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi latihan membersihkan hati dari keserakahan dan kepentingan diri sendiri.

Pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari bisa hadir dalam bentuk sederhana: meluangkan waktu untuk keluarga di tengah kesibukan, membantu orang yang sedang kesulitan, menahan emosi agar tidak melukai orang lain, atau tetap mau berbagi meski keadaan sendiri belum benar-benar lapang.

Karena itulah pembagian daging kurban memiliki makna sosial yang sangat dalam. Idul Adha mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Orang-orang yang selama ini hidup dalam kekurangan ikut merasakan kebahagiaan bersama. Dari sana tumbuh rasa persaudaraan, empati, dan kepedulian sosial yang semakin dibutuhkan di tengah kehidupan yang individualistis.

Pada akhirnya, Idul Adha tahun ini datang di tengah dunia yang sedang terluka. Luka karena perang, luka karena ketidakadilan, luka karena kerakusan manusia, dan luka karena banyak orang mulai kehilangan rasa peduli terhadap sesama.

Namun justru di situlah pesan Idul Adha menemukan maknanya yang paling dalam. Ketika dunia dipenuhi kemarahan, kesabaran menjadi peneduh. Ketika manusia mudah tergoda oleh kepentingan dan hawa nafsu, ketaatan menjadi penunjuk arah. Dan ketika ego membuat dunia semakin retak, pengorbanan menjadi jalan untuk menjaga kemanusiaan tetap hidup.

Mungkin dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar dan kuat. Tetapi dunia sangat membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap tenang saat diuji, tetap jujur saat tergoda, dan tetap peduli ketika banyak orang memilih sibuk dengan dirinya sendiri. 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini