News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kisah Nenek Martun, Menggantungkan Hidup pada Daun Singkong dan Air Langit

Editor: Mohamad Yoenus
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Laporan Wartawan Banjarmasin Post, Man Hidayat

TRIBUNNEWS.COM, BATULICIN - Tinggal di sebuah gubuk berukuran 3x4 meter, tinggal seorang nenek tua berumur 69 tahun, tepatnya di kawasan Jalan kodeco rt 12, Tungkaran Pangeran, Simpangempat, Tanahbumbu.

Tampak, perempuan tua itu mengikat pucuk daun singkong di dalam gubuknya.

Satu demi satu, pucuk singkong yang telah diambilnya dari tumbuhan singkong liar ia kumpulkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Itulah yang menjadi satu-satunya penghasilannya.

Itu pula yang menjadi makanan pokoknnya dalam sehari yang makan hanya dua kali sehari dengan lauk daung singkong atau kangkung.

Bahkan kadang saat dirinya sakit, ia tak bisa makan dan hanya meminum air dari sumur atau menunggu air turun dari langit (air hujan).

Inilah yang dialami Martun. Perempuan paruh baya yang juga hidup sebatang kara dan tidak memiliki keluarga satu pun.

Konon, ia dilahirkan dan ditinggalkan ibunya. Sementara suaminya meninggal karena tersambar petir sekitar 11 tahun lalu.

Kini Martun hanya tinggal sendiri di komplek SDN Tungkaran Pangeran. Bahkan baru-baru ini dia sempat sakit dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya, hingga mencari makan pun tak bisa.

Tepatnya pada Ramadan lalu, selama 8 hari dia harus terbaring sakit di dalam gubuknya itu, berserakan dengan pakaian kotor dan peralatan makannya.

Kini dia sudah tidak memiliki siapa-siapa. Bahkan anak pun tidak punya.

Martun juga tidak bisa berharap kepada siapa-siapa karena tidak memiliki satu orang pun keluarga di Tanbu dan di Jawa sana.

Dia termasuk warga transmigran ini kini hanya hidup sendiri.

Bahkan untuk bertahan pun juga harus mencari pucuk daun singkong.

Meski harus seperti kerbau ke comberan juga tidak masalah. Karena tidak ada satupun orang bisa diharapkannya.

Mencari daun singkong liar tidak mudah bagi perempuan tua yang harus bergerak dengan alat bantu itu.

Namun demi menyambung hidup, dia rela melakukannya. Namun alangkah, mirisnya hati mendengar harga jualnnya yang hanya dihargai pembeli Rp 250 rupiah per ikatnya.

Sama sekali tidak sebanding dengan usaha yang dilakukannya untuk mendapatkan daun singkong.

Sementara harga di pasaran sekitar Rp 2.000 hingga 2.500 rupiah.

Namun Martun memikirkan, karena dirinya sudah tak sanggup ke pasar, lebih baik menjual berapapun harganya.

Meski jarak berkisar 800 meter untuk menuju jalan raya, namun baginya amatlah jauh.

Karena untuk keluar jalan raya, dia harus beristirahat selama 4 kali.

Tantangannya bukan itu saja, ternyata saat tiba dijalan raya, taksi pun tak mau berhenti.

"Sekarag mau ke pasar saja susah, keluar jalan raya 4 kali istirahat saya, mau naik taksi tapi gak ada yang mau nyinggahi saya. Mungkin dikira sopir taksinya tukang minta-minta. Ya maklumlah saya sudah seperti ini," cerita Martun.

Bahkan terakhir dia mencoba keluar jalan raya untuk ke pasar urung dilakukan.

Karena sampai di luar di jalan raya, dia merasa tidak kuat lagi dan sempat duduk di trotoar.

Saat itu, sempat tukang sayur keliling memberikannya tempe dan jagung saat melintas.

"Kemarin saya mau keluar itu. Gak kuat lagi, ya duduk ditrotoar saja. Untungnya ada tukang sayur baik , tukang sayur itu sempat tanya mau kemana, ya saya jawab ke pasar. Lalu tukang sayur itu lebih baik gak usah, terus dikasi tempe dan jagung. Saya disuruh pulang, ya pulang lah saya," katanya.

Sementara daun singkong yang dipetiknya murni tanaman liar. Karena tidak bisa ke pasar, ada orang yang datang ngambil ke gubuknya meski dijual dengan harga murah.

"Daripada tidak ada yang membeli lebih baik dijual murah. Kalau ke pasar belum lagi perjalanannya, belum lagi ongkos taksinya atau ojek. Tidak sebanding dengan pengeluaran perjalanan," katanya.

Sementara tempat tinggalnya, sudah selama 3 kali berpindah.

Pertama sudah rusak, yang kedua juga sudah roboh. Bahkan karena sudah tidak ada tempat tinggal lagi, dia sering tidur di sekolahan.

Dan baru sekitar 3 tahun yang lalu, seorang warga Thailand, membangunkan gubuknya yang sekarang dijadikan tempat tinggalnya.

Sementara orang tersebut sudah pergi entah ke mana.

"Dan bulan Ramadan lalu, saya sempat sakit tidak bisa bergerak. Saya minum air hujan saja, puasa sama sahur minum air hujan saja karena tidak bisa keluar rumah lagi. Sampai ada anak-anak dari Forum Peduli Masyarakat Tanahbumbu membawakan saya nasi bungkus setiap harinya," katanya.

Saat Hari Raya Lebaran, ada zakat fitrah dari anak-anak FPM Tanbu yang diketuai Farlin.

Saat itulah, Bpost bersama dengan FPM menyambangi kediaman Martun yang selalu mencari daun singkong itu.

"Saya juga tidak pernah dapat bantuan. Ya gimana ya, saya bisa apa juga. Bisa makan aja sudah bersyukur sekali,"katanya. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini