TRIBUNNEWS.COM - Ramadan selalu memiliki daya tariknya tersendiri. Selain suasana yang lebih khusyuk dan hadirnya tradisi khas seperti ngabuburit, ada juga fenomena musiman yang menarik perhatian, yakni kemunculan timun suri yang tiba-tiba mudah ditemukan di mana-mana.
Selama bulan puasa, timun suri bisa dijumpai di pasar tradisional, supermarket, hingga lapak pedagang di pinggir jalan. Buah berwarna pucat dengan daging lembut dan aroma khas ini hampir selalu menjadi bahan utama es buah atau minuman berbuka puasa. Kehadirannya seolah menjadi “penanda” bahwa Ramadan telah tiba.
Namun, setelah bulan puasa berakhir, timun suri terasa seperti hilang ditelan bumi. Lantas, mengapa buah ini identik dengan Ramadan dan jarang terlihat di hari-hari biasa?
Permintaan Meningkat Saat Ramadan
Salah satu faktor mengapa timun suri mudah dijumpai saat Ramadan adalah karena tingginya permintaan pasar. Timun suri sudah lama dikenal sebagai buah yang cocok untuk berbuka puasa karena kandungan airnya tinggi, rasanya segar, dan teksturnya lembut. Setelah seharian menahan lapar dan haus, minuman berbahan timun suri dianggap membantu menyegarkan tubuh.
Ketika Ramadan tiba, konsumsi minuman segar meningkat signifikan. Kondisi ini membuat pedagang memperbanyak stok timun suri karena peluang penjualannya lebih besar. Sebaliknya, di luar Ramadan, permintaannya menurun drastis sehingga distribusinya pun ikut berkurang.
Pola Tanam Mengikuti Momentum Ramadan
Faktor lain yang tak kalah penting adalah strategi budidaya para petani. Banyak di antaranya sengaja mengatur waktu tanam agar masa panen timun suri bertepatan dengan bulan puasa, ketika permintaan pasar sedang tinggi. Padahal, melansir Kompas.com, timun suri sebenarnya termasuk buah yang tidak mengenal musim dan dapat tumbuh kapan saja selama teknik penanamannya dilakukan dengan baik.
Baca juga: Resep Membuat Kolak Pisang Candil, Cocok Jadi Menu Takjil Buka Puasa Ramadan di Hari Pertama 2026
Dengan perencanaan yang matang, petani bisa memaksimalkan keuntungan karena harga jual timun suri saat Ramadan cenderung lebih stabil, bahkan berpotensi meningkat dibandingkan hari biasa. Pola tanam yang disesuaikan dengan momentum ini pun semakin memperkuat anggapan bahwa timun suri hanya tersedia saat Ramadan.
Identik dengan Tradisi Berbuka Puasa
Selain faktor ekonomi, unsur budaya juga berperan besar. Di Indonesia, timun suri telah lama menjadi bagian dari menu berbuka puasa. Buah ini kerap dicampur dengan sirup, gula, susu, atau es batu untuk menghasilkan minuman manis dan menyegarkan.
Karena sudah terlanjur melekat dengan tradisi Ramadan, banyak orang yang secara tidak sadar hanya mencarinya di bulan tersebut. Di luar Ramadan, timun suri jarang masuk daftar belanja buah harian.
Kurang Praktis untuk Konsumsi Sehari-hari
Dibandingkan apel, jeruk, atau pisang yang bisa langsung dimakan, timun suri umumnya perlu diolah terlebih dahulu. Daging buahnya biasanya diserut atau dipotong kecil untuk dijadikan campuran minuman. Faktor ini membuatnya kurang populer sebagai buah konsumsi sehari-hari.
Alhasil, popularitas timun suri lebih kuat sebagai bahan minuman musiman daripada sebagai buah meja yang rutin dikonsumsi.
Timun suri memang tidak benar-benar hilang di luar Ramadan, tetapi karena permintaannya menurun, buah ini jadi lebih jarang terlihat di pasaran.
Jadi, mumpung lagi musim dan stoknya melimpah selama bulan puasa, yuk nikmati kesegaran timun suri sepuasnya sebelum kembali jadi “buah musiman” yang bikin kangen!
Baca juga: Resep Takjil Ramadan 2026: Kroket Makaroni Kornet Keju, Camilan Gurih Temani Buka Puasa
Baca tanpa iklan