Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

Belajar Bahasa Inggris di Australia, Gadis Medan Ini Ingin Kembali

Karena belajar bahasa Inggris di Australia bersama murid dari berbagai negara, pengalaman belajar Sovia Ginting, pemenang kompetisi…

Tribun X Baca tanpa iklan

Karena belajar bahasa Inggris di Australia bersama murid dari berbagai negara, pengalaman belajar Sovia Ginting, pemenang kompetisi Australia Plus You, tak hanya berbuah pengetahuan berbahasa, tetapi juga budaya Australia dan negara lain. Keinginan melanjutkan pendidikan di Australia pun kian mantap.

Sovia_Guru

Sovia Ginting dan gurunya di Academia, Susan Livsey (Foto: Dina Indrasafitri)

Sovia, seorang staf keuangan dari kota Medan, memenangkan hadiah belajar bahasa Inggris di Australia gratis selama dua minggu dalam kompetisi Australia Plus You yang diadakan bulan Mei 2014.

Ia tiba di Australia bulan Agustus dan menjalani  kursus bahasa Inggris umum (General English) di lembaga pendidikan terapan swasta Academia di kota Melbourne.

Dari pengalamannya itu, Sovia mendapat berbagai pengetahuan, baik tentang bahasa Inggris, budaya Australia, maupun budaya teman-teman sekelasnya.

Sovia mengaku terkesan dengan sistem belajar yang dijalaninya di Australia, karena menurutnya lebih banyak penekanan terhadap praktek dibanding teori. Guru-gurunya pun cenderung akrab dengan siswanya layaknya teman.

Ia merasa belajar bahasa Inggris dengan seseorang yang tak bisa bahasa Indonesia adalah metode yang efektif, karena saat melakukan latihan percakapan, misalnya, kedua belah pihak mau tak mau harus berusaha berbicara bahasa Inggris sebaik mungkin agar pesan tersampaikan.

Rekomendasi Untuk Anda

“Kalau di Indonesia, kita masih sama orang Indonesia juga. Jadi kalau kita salah ngomong, langsung kita pindah ke bahasa Indonesia...Tapi kalau di sini kita mau nggak mau harus putar kepala,” cerita Sovia kepada Dina Indrasafitri dari ABC International.

Sovia_Teman

Sovia dan teman-teman di Academia (Foto: Sovia Ginting)

Teman dari Berbagai Negara

Guru  bahasa Inggris Sovia di Academia, Susan Livsey, menyatakan bahwa siswa-siswanya berasal dari berbagai negara, seperti Korea, Jepang dan Italia.

Ada yang bahasa Inggrisnya sudah cukup bagus, tapi ada yang datang ke Australia dengan kemampuan berbahasa Inggris yang amat terbatas, hingga harus mulai belajar dari kelas ‘beginner’.

Salah satu tantangan yang menurut Livsey sering dihadapi oleh siswa-siswa dari Asia adalah sungkannya mereka untuk berbicara, terutama dengan menggunakan suara yang agak keras. Ini tak terlepas dari budaya.

“[Murid-murid dari Asia] harus didorong untuk berbicara dengan keras,” ceritanya.

Selain itu, tantangan yang cukup berat adalah memahami ‘tenses’, atau bentuk-bentuk kata kerja yang menunjukkan waktu. Ini sering menyulitkan siswa-siswa dari Indonesia.

“Ada 16 tense dalam Bahasa Inggris. Sebagian harus diajarkan secara benar-benar spesifik dan mendalam,” ucap Livsey.

Perangkaian kalimat pun sering jadi masalah bagi siswa Indonesia, namun perihal pengucapan, menurutnya siswa dari Indonesia biasanya cukup bagus.  

Tak hanya soal bahasa Inggris. Karena berbincang-bincang dengan teman-temannya, Sovia pun belajar hal-hal menarik dari negara asal mereka. Mulai dari budaya hingga wajib militer di Korea Selatan.

Dari perjalanannya menuju tempat kursus dan pulang, Sovia juga mendapat pelajaran bahasa Inggris. Berkat curi-curi dengar dan berinteraksi dengan warga Australia, Ia pun jadi tahu berbagai istilah khas Australia, yang terkadang terdengar aneh di telinganya.

Contohnya, ungkapan ‘no worries’ yang sering dilontarkan sebagai balasan ‘thank you’ dalam bahasa Inggris khas Australia.

“No worries maksudnya apa? jangan ragu-ragu atau gimana?,” cerita Sovia sambil tertawa.

Tambahan ilmu yang Ia dapat akan Ia bawa ke Medan, dan Ia bagikan ke teman-teman, tambahnya.

“Aku ke sini permisi sama kantor. Aku harus memberikan sesuatu, yaitu harus mengajar teman-teman bahasa Inggris nantinya,” ujar Sovia.

Selain itu, Sovia berencana mendorong teman-temannya untuk juga mengunjungi Australia.

Sovia_NAB

Berkunjung ke kantor pusat salah satu bank terbesar di Australia. (Foto: Dina Indrasafitri)

Punya Banyak Impian

Setelah merampungkan kursus dua minggu di sini, keinginan Sovia untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat S2 bidang akuntansi atau keuangan di Australia makin besar. “Yang dulunya kadarnya 100 persen sekarang jadi 1.000 persen,” ujarnya.

Berbagai impian dan ambisi memang disimpan Sovia dalam benaknya. Sejak dulu ia rajin menjalani berbagai kursus dan mencari beasiswa.

“Saya ingat kata dosenku dulu, kita tidak salah untuk bermimpi. Kalau kita sudah punya satu mimpi dan itu sudah tercapai, kita bisa bermimpi lagi,” ucapnya.

Selain itu, Sovia bercerita bahwa Ia juga ingin membuktikan bahwa Ia bisa sukses dan menjadi anak yang baik meskipun sudah tidak lagi memiliki ibu. Ibu kandungnya meninggal saat Ia masih di sekolah dasar, sedangkan ibu tirinya meninggal saat Sovia lulus kuliah.

“Dulu mama pernah cerita dia menyuruh anaknya semua rajin-rajin belajar biar bisa mengajak dia keliling Indonesia,” ceritanya sambil terisak.

“Makasih Tuhan, mungkin aku ngga bisa bawa mama keliling Indonesia tapi aku pernah ke Singapura, aku pernah ke Malaysia dan sekarang aku pernah jalan ke Australia… dan ini semua aku dapatkan dari hasil jerih payah aku.”

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas