Mengenal Perpaduan Budaya di Islamic Museum of Australia
Secara arsitektural dan artistik, Islamic Museum of Australia (IMA) di Melbourne didedikasikan bagi perpaduan budaya. Bangunan museum…
Secara arsitektural dan artistik, Islamic Museum of Australia (IMA) di Melbourne didedikasikan bagi perpaduan budaya. Bangunan museum yang kini telah berusia setahun jika dilihat dari atas, misalnya, mengesankan citra perahu pelaut Makassar.
Letaknya di bagian utara Melbourne. Jika bersepeda di sepanjang jalur Merri Creek Trail melewati pepohonan rindang, mungkin anda tidak akan pernah mengira tadinya kawasan bernama Thornbury ini adalah daerah pabrik.
Berbagai pabrik di daerah yang tadinya kawasan industrial itu telah lama bubar. Salah satunya adalah pabrik botol, yang sejak setahun lalu, telah berubah wujud menjadi IMA.
"Seorang kaligrafer bernama Shakeel Tariq melukis dua tangki-tangki air ini," kata Nur Shkembi, kurator seni pada IMA, menjelaskan tangki besar yang menjadi semacam pintu masuk ke kawasan museum.
"Lukisan ini adalah perpaduan antara kaligrafi dan grafitti," ujar Nur Shkembi kepada ABC.

"Shakeel memulai karir sebagai pelukis graffiti yang belakangan belajar kaligrafi. Kini dia memadukan keduanya dan bisa kita saksikan di kawasan museum ini," ujar Nur Shkembi lagi.
Perpaduan budaya di museum ini misalnya tampak dari penutup luiar bangunan museum yang terbuat dari baja berkarat, melambangkan warna tanah merah di pedalaman Australia, dengan ornamen arsitektur Timur Tengah.
Nur Shkembi menyatakan, jika kita melihat bangunan museum dari atas, akan tampak kesan citra unta dan perahu pelaut Makassar - yang sengaja didedikasikan bagi sejarah awal kedatangan Islam di Australia.
Peranan pedalaman Australia memberikan inspirasi kuat bagi pendiri museum ini, Moustafa Fahour OAM. Ini terlihat pada bagaimana museum ini menampilkan sejarah panjang Islam di Australia, mulai dari kedatangan pelaut Makassar yang mencari teripang ke kawasan utara hingga para penunggang unta asal Afghanistan di pedalaman Australia.
Saat ini, di museum ini sedang berlangsung pameran Boundless Plains, yang menampilkan jejak-jejak kehadiran Islam di Australia, misalnya masjid pertama di daerah Marree, Australia Selatan.

Pameran ini selain mengungkap jejak peninggalan semacam itu, juga menemukan Aisha Zada, seorang nenek berusi 101 tahun. Aisha adalah anak dari penunggang unta asal Afghanistan yang kawin dengan perempuan aborigin.
"Aisha masih ingat misalnya, bagaimana ia yang bukan Muslim, selalu membersihkan masjid untuk ayahnya yang Muslim. Aisha bahkan selalu menyiapkan menu sahur buat ayahnya di bulan puasa," jelas Moustafa Fahour.
Contoh perpaduan budaya lainnya yang juga tampak jelas di museum ini adalah sculptures berupa papan selancar karya seniman keturunan Yunani Philip George. Karya ini merefleksikan kerusuhan SARA di Pantai Cronulla, Sydney di tahun 2005.
Namun demikian, menurut Nur Shkembi, pernah ada seorang pengunjung yang menanyakan mengapa tidak ada seni tradisional di museum ini. Nur mengajak pengunjung tersebut ke papan seluncur dan menunjukkan desain tradisional di papan itu.
"Ini adalah gambaran umat Muslim," jelasnya. "Sebagai warga Australia kami memiliki beragam identitas. Kecuali warga aborigin, kita semua pasti memiliki garis keturunan yang merupakan pendatang."
Tampaknya, museum ini memang ingin menampilkan tradisi ke dunia modern.
Pengunjung bisa menikmati karya kaligrafer ternama Sabah Arbilli. Atau mendengar suara Cat Stevens atau dikenal sebagai Yusuf Islam membacakan ayat suci Alquran.
Dan, tak lupa pula, perpaduan budaya terasa sampai ke kafe museum. Mungkin saja pengunjung akan bertemu Samira El Kafir, dalah seorang finalis MasterChef Australia di kafe itu.

Baca tanpa iklan