Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
ABC World

Australia Diminta Lebih Libatkan Warga Aborijin Kelola Tanah Adat

Para ilmuwan mendesak Pemerintah Federal Australia untuk membantu lebih banyak warga Aborijin untuk pindah kembali ke tanah adat mereka,…

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Para ilmuwan mendesak Pemerintah Federal Australia untuk membantu lebih banyak warga Aborijin untuk pindah kembali ke tanah adat mereka, untuk membantu meningkatkan pengelolaan beberapa lanskap dan keanekaragaman hayati paling murni di Australia.

Di perbatasan Wilayah Utara Australia-Queensland, Persemakmuran telah menyatakan dukungan terhadap jaringan terbaru dari Kawasan Lindung Aborijin (IPA), yang membentuk 40% dari Sistem Serapan Air Australia.

IPA Ganalanga Mindibirrina meliputi wilayah cekungan Sungai Nicholson, hutan hujan, padang rumput spinifex dan dataran tanah hitam seluas 11.000 km persefi, yang terletak jauh di dalam selatan Teluk Carpentaria.

Iris Hogan dan Topsy Green
Para pemilik tanah adat Waanyi ingin lebih banyak lapangan kerja penjaga hutan bagi kaum muda.

ABC; Jane Bardon

Ekolog dan peneliti, Sean Kerins, dari Universitas Nasional Australia (ANU) membantu untuk menengahi kesepakatan dengan Persemakmuran bersama Dewan Tanah Utara.

Ia menyerukan Pemerintah Federal Australia untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi daerah itu dari kebakaran, hewan liar dan gulma ketimbang komitmen yang ada saat ini, yakni mendanai lima penjaga hutan Adat.

"Begitu penting untuk mengingat bahwa pekerjaan ini dilakukan atas nama semua warga Australia dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca," kemuka Dr Sean.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia mengatakan, warga Aborijin begitu senang bisa bermitra dengan Pemerintah Federal Australia.

Klan yang memiliki tanah itu, dan secara tradisional hidup di atasnya -di sebuah komunitas kecil -adalah Waanyi dan Garawa.

Pemilik tanah adat Waanyi, Iris Hogan, telah terlibat dalam perjuangan panjang klan ini untuk membuat tanah mereka tercakup dalam sistem resapan air Australia.

"Orang-orang datang kembali ke tanah ini dan hari ini adalah hari yang sangat istimewa," ungkap Iris Hogan.

Selama beberapa dekade, sebagian besar komunitasnya meninggalkan tanah tersebut, karena Pemerintah Federal dan Negara Bagian mencabut dana sekolah dan program lapangan kerja lokal.

Iris Hogan tetap tinggal dan mengatakan, ia berharap agar lebih banyak keluarga akan didukung secara finansial untuk kembali dari kota-kota yang saat ini mereka tinggali, termasuk Doomadgee di Queensland, dan Borroloola dan Tennant Creek di Wilayah Utara Australia.

"Kami benar-benar berharap untuk mendapatkan pendanaan lebih sehingga kami bisa memiliki pagar dan mengurus ternak dan kebun sayur atau apapun untuk hidup di sini," pintanya.

Tari Perayaan
Makin banyak perempuan diminta untuk membantu melindungi situs-situs suci.

ABC; Jane Bardon

Di saat warga yang berburu dan mengendalikan kebakaran hutan pindah dari wilaya itu, hewan liar-pun masuk, merusak keanekaragaman hayati dan situs suci.

Para pemilik tanah adat membuat program penjaga hitan kecil yang telah membuat beberapa perbaikan untuk keanekaragaman hayati, sejak kebakaran hutan membakar 16.000 kilometer dan peternakan sapi terdekat di awal tahun 2000-an.

Pemilik tanah adat Waanyi, Topsy Green, ingin agar hal itu diperluas untuk menawarkan kesempatan bagi perempuan muda di klan tersebut untuk membantu melindungi lubang air suci yang disumbat oleh sapi, babi dan kuda liar.

"Kami punya pemadam kebakaran, para pria, tapi kami ingin lebih banyak perempuan untuk bergabung dalam petugas pemadam, sehingga mereka bisa melindungi situs suci kami, situs perempuan," ujarnya.

Iris juga ingin lebih banyak lapangan kerja untuk menarik kaum muda jauh dari masalah yang ada di kota-kota yang mereka tinggali.

"Kami sudah kehilangan hampir setengah dari generasi kami karena bau bahan bakar, mabuk-mabukan," ungkap Iris Hogan.

"Setengah dari generasi kami terbunuh, mati karena mabuk-mabukan, dan kami ingin membawa mereka pulang sekarang di mana mereka punya pikiran waras dan hidup dengan tradisi serta menghormati budaya dan para sesepuh," jelasnya.

Sejumlah perempuan muda Waanyi dan Garawa yang kembali ke daerah itu untuk perayaan deklarasi diberi kesempatan untuk terlibat dalam studi keanekaragaman hayati yang dijalankan oleh ANU dan Universitas Charles Darwin.

Kawasan Lindung Adat
IPA (kawasan lindung) Ganalanga Mindibirrina mencakup 11.000 km persegi.

ABC; Jane Bardon

Cucu Topsy, Kaitlyn Green, mengatakan, terlibat dalam penangkapan dan identifikasi kadal telah membuka matanya terhadap keindahan kampung halaman keluarganya dan hewan-hewan aslinya.

"Ketika saya kembali ke rumah, saya tak terlalu tertarik pada kadal tapi saya telah menemukan kadal yang sangat berbeda di sini, yang belum pernah saya lihat sebelumnya," aku Kaitlyn.

"Saya ingin memiliki pekerjaan penuh-waktu untuk melakukan hal ini, saya benar-benar menyukainya," sambungnya.

Ekologi Terry Mahney dari Universitas Charles Darwin mengatakan, lebih banyak survei diperlukan untuk memetakan populasi spesies terancam dan rentan di daerah itu, serta program manajemen desain untuk mereka.

"Ada berbagai spesies yang terancam, yang bisa berada di sini termasuk Carpentaria burung, tikus batu Carpentaria," sebutnya.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterjemahkan: 17:30 WIB 13/07/2016 oleh Nurina Savitri.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas