Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

Supermodel China Lu Yan Mendesain Bahan Wool Australia

Mantan model Lu Yan sekarang menjadi desainer busana pertama asal China yang bekerjasama dengan perusahaan wool terkenal Australia…

Tribun X Baca tanpa iklan

Sebagai model, Lu Yan adalah nama yang terkenal di China, dan karenanya semakin banyak model asal China tampil di dunia internasional.

Sekarang dengan bisnis busana sendiri, Lu Yan menjadi desainer China pertama yang bermitra dengan perusahaan bahan wool terkenal Australia The Woolmark Company.

Di bawah hujan lebat, supermodel China pertama ini mengibaskan payungnya, dan menerima kami dengan senyum terbuka di depan pintu studionya di Shanghai yang diberi nama Comme Moi.

Lu Yan tinggi dan anggun, seperti banyak model lain yang sudah lebih dari 10 tahun menjelajahi berbagai panggung busana di Eropa.

Namun ibu dari satu anak berusia 35 tahun ini juga sederhana, membumi, lucu dan tidak tampak sibuk.

Tonton video Lu Yan disini.

Kami bertemu di pagi hari yang basah di musim semi di Shanghai, karena dia menjadi desainer pertama di China yang bekerjasama dengan The Woolmark Company, untuk mendesain sejumlah bahan menggunakan wool Australia.

Rekomendasi Untuk Anda

China dan Australia adalah mitra di industri wool.

Sekitar 80 persen wool yang diproduksi di berbagai peternakan domba di Australia diekspor ke China untuk dibersihkan, ditenun menjadi bahan pakaian.

Sekitar 75 persen wool yang diproses tersebut digunakan di China untuk dibuat menjadi pakaian, sementara sisanya dikirim ke berbagai negara lain.

Australian Merino breed wool is the type used mostly in mens’ suiting.
Domba Merino adalah salah satu bahan utama untuk membuat wool.

ABC: Prue Adams

Australian Wool Innovation (AWI) - badan pemasaran dan penelitian yang didanai para produsen wool Australia - menginginkan adanya mitra desainer yang baru tumbuh dan berkembang, guna mempromosikan bahan wool untuk kalangan menengah ke atas di China.

The Woolmark Company adalah anak perusahaan AWI dan logo Woolmark hanya digunakan untuk pakaian yang sudah disertifikasi menggunakan 100 persen bahan wool baru.

Lu Yan pernah menjadi juri dalam salah satu parade fesyen Woolmark. Dia sangat terkesan dengan gaya dan kekuatan bahan wool dalam parade tersebut, dan AWI juga terkesan dengan Lu Yan, sehingga kedua belah pihak kemudian sepakat melakukan kerjasama.

Hasilnya adalah label bernama China Rouge yang diluncurkan di akhir tahun 2016.

"Karena di China, setiap liburan seperti Natal, Tahun Baru, ada kebiasaan untuk mengenakan sesuatu berwarna merah." katanya sambil menunjukkan lima jenis pakaian berwarna merah, celana, jaket, sweater, dan gaun.

"Warna merah sangat berarti bagi warga China."

Comme Moi’s China Rouge range was launched in time for Christmas.
Koleksi China Rouge dari Comme Moi diluncurkan Natal lalu di China.

Supplied.

Lu Yan sangat terkenal di China.

Dibesarkan di sebuah desa kecil Jiang Xi di China, Lu Yan ditemukan oleh agen ketika dia berusia 18 tahun.

"Dua agen asal Perancis datang ke Beijing, dan mereka bertemu saya di lobi sebuah hotel dan mereka membujuk saya dengan mengatakan \'apakah kamu mau ke Paris untuk menjadi model." kata Lu Yan, menceritakan kembali awal karirnya.

"Bagi seseorang yang belum pernah ke luar dari China saat itu, ini adalah hal yang luar biasa." katanya.

Tidak seorang pun orang dari desanya memiliki paspor, apalagi pernah bepergian ke Eropa.

Lu Yan tidak bisa berbahasa Inggris atau Perancis ketika itu, namun dia berusaha keras untuk berhasil menjadi model.

Lu Yan in her modelling days.
Lu Yan ketika masih menjadi model.

Supplied.

"Mereka mengatakan saya orang yang special, mereka mengatakan saya akan mendapat banyak pekerjaan di Paris." kata Lu Yan sambil tersenyum lebar.

"Tetapi saat itu saya tidak berpikiran sama sekali akan menjadi terkenal, lebih bagaimana bisa mendapat uang untuk bertahan hidup."

Perjalanannya menjadi model tidak gampang begitu saja.

Lu Yan mengatakan dia tidak memiliki wajah yang lembut, hal yang dianggan sebagai cantik dan anggun di China.

"Sebenarnya dalam tradisi China, mereka tidak menyukai wajah saya, bagi mereka saya tidak mungkin jadi model."

"Mereka menyebut saya \'bebek aneh\'.

Namun Lu Yan tetap bertahan dan berhasil.

Dia menjadi model di seluruh dunia, membuka jalan bagi para gadis China lainnya untuk melakukan hal yang sama, sebelum kembali ke China di tahun 2010.

Bertentangan dengan keinginan keluarganya yang menyarankan dia terjun di dunia akting, Lu Yang kemudian mengembangkan perusahaan busana sendiri.

"Untuk fesyen, saya bisa memutuskan dengan siapa saya akan bekerja, saya bisa memutuskan gaya apa yang saya inginkan, fotografer mana yang ingin saya pakai."

"Saya bisa memutuskan semuanya, dan saya mengatakan \'saya rasa saya bisa melakukannya."

"Saya ingin melakukannya, dan itulah yang saya lakukan."

Former supermodel Lu Yan in her Shanghai fashion design studio.
Lu Yan di kantornya di Shanghai.

ABC: Prue Adams

Dengan staf sekitar 30 orang, studio desain Comme Moi terletak di antara butik kecil dan berbagai cafe di South Shaanhi Road di Shanghai, di kawasan yang disebut French Concession.

Kami menenggak teh peppermint tea di sebuah ruangan, dengan Lu Yan menjelaskan dalam bahasa Inggris yang lancar mengenai bagaimana keterlibatannya dengan wool Australia.

"Ketika kita menekuni bisnis ini, kita mengasosiasikan wool dengan kualitas tinggi, kegunaan wool yang menghangatkan tubuh bila dipakai."

"Jadi karena kami bisa mendesain sesuatu, menggunakan bahan ini untuk jeans dan pakaian yang bernada sportif maka saya semakin tertarik."

Dia mengatakan dia semakin banyak belajar mengenai wool sejak dia mengetahui lebih dekat domba merino, domba utama yang diternak di Australia untuk memproduksi wool, namun banyak konsumen China yang tidak mengetahui dari mana asal wool.

"Kebanyakan hanya tahu wool itu kuat bahannya, dan mewah, dan mahal, namun mereka tidak begitu mengerti dari mana asalnya." kata Lu Yan.

Dari sekitar 250 ribu sampai 300 ribu ton wool yang masuk ke China setiap tahunnya, hanya separuhnya berasal dari Australia dan sisanya datang dari Afrika Selatan dan Selandia Baru.

Landline ditayangkan di Australia Plus TV untuk tahun 2017 dengan program khusus mengenai China selama 90 menit hari Minggu 5 Februari, 06:00, 14:30 & 22:30 WIB.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas