Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
ABC World

'Pulang ke Negara Asalmu': Backpacker di Pedalaman Australia Dilempari Batu

Para backpackers di beberapa kawasan di Australia mulai kehilangan pekerjaan mereka dan sebagian \'diusir\' oleh warga setempat di…

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Sejumlah backpacker di beberapa kawasan di Australia mulai kehilangan pekerjaan, bahkan sebagian \'diusir\' oleh warga setempat. Warga sekitar khawatir para backpacker menyebarkan virus corona.

Tindakan Rasisme Terhadap Backpackers

  • Seorang manajer hostel mengatakan para backpacker dilihat sebagai ancaman bagi warga setempat
  • Pemerintah negara bagian Australia Selatan mengatakan tindakan rasisme tidak akan ditolerir
  • Penutupan perbatasan dan harga tiket pesawat yang mahal membuat para backpacker terjebak di Australia

Mereka disebut \'backpacker\' kebanyakan adalah pemegang work and holiday visa (WHV), berusia antara 18-30 tahun dari berbagai negara yang datang ke Australia untuk bekerja sambil berlibur.

Kepada ABC, sejumlah \'backpacker\' di pedalaman Australia Selatan mengatakan penduduk setempat melempari mereka dengan batu.

Tak hanya itu, mereka juga menemukan kata-kata \'go home\' yang tertulis di tong sampah di hostel tempat mereka tinggal.

\'Backpacker\' asal Inggris Roan Hodgson, yang tinggal di Harvest Trail Lodge, kota kecil Loxton, sekitar 256 km dari Adelaide mengatakan mereka mengalami diskriminasi.

"Satu-satunya tempat dimana kami bisa santai selain di kamar kami adalah di balkon," katanya.

"Beberapa orang yang melintas di depan hostel kami berteriak \'go home\', dan beberapa hari lalu beberapa orang melempar batu."

Rekomendasi Untuk Anda

"Kami sudah bekerja di sini selama beberapa bulan, tindakan seperti ini menurut saya adalah tindakan konyol."

Backpackers in a citrus orchard.

ABC News: Anita Ward: Bagi backpacker asal Jerman Kristina Welters dan Milan Scheunemann, adalah impian terbesar mereka untuk bisa mengunjungi Australia.

Sementara itu, Milan Scheunemann yang juga berasal dari Jerman, mengatakan sebelumnya para \'backpacker\' disambut dengan tangan terbuka oleh masyarakat sebelum adanya virus corona.

"Kami tidak bisa pulang dan bertemu dengan orang tua kami, jadi di sini kami bisa membangun keluarga kecil kami, tetapi sedihnya kami diperlakukan seperti orang luar.\'

Simak artikelnya dalam bahasa Inggris di sini.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas