Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

Puncak Virus Corona Jawa Timur di Bulan Juli, Jangan Tergesa Ke 'New Normal'

Puncak penularan kasus COVID-19 paling tidak di Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur diperkirakan baru akan terjadi di bulan Juli.

Tribun X Baca tanpa iklan

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Puncak penularan kasus COVID-19, paling tidak di Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, diperkirakan baru akan terjadi di bulan Juli, sehingga saat ini tidak diperlukan tindakan bergesa-gesa untuk melakukan apa yang disebut kehidupan \'new normal\'.

Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan memiliki kasus corona virus yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia dan menjadikanya sebagai epicentrum utama penyebaran virus tersebut.

Beberapa rumah sakit di Jawa Timur, termasuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo kini kewalahan menampung pasien COVID-19.

Sidoarjo menjadi kawasan kedua di Jawa Timur yang memiliki kasus virus corona.

Dr Atok Irawan, SpP dalam perbincangan dengan wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya, hari Selasa (2/6/2020), mengatakan tidak perlu tindakan tergesa ke \'new normal\'.

"Saat ini semua rumah sakit di Surabaya dan Sidoarjo penuh ruang isolasinya," kata dr Atok.

Rekomendasi Untuk Anda

"Di RSUD Sidoarjo ruang isolasi ada 131 tempat tidur, pasien yang kami rawat 134 pasien, dengan tiga 3 orang saat ini isolasi di IGD," katanya.

PIC TEASER Berserah Diri Pada Alam

Sementara itu di RSUD Sidoarjo, dr Atok mengatakan mereka sudah memiliki APD yang cukup untuk masa empat bulan ke depan.

Dr Brahmana mengatakan persoalan yang sekarang harus dipecahkan oleh pihak-pihak terkait adalah mencegah semakin banyaknya penularan.

"Problem penting yang harus dipecahkan adalah testing masyarakat atau pasien, sehingga bisa mendiagnosis pasien mana yang pasien COVID-19 dan mana pasien mana yang non COVID, sehingga tidak bercampur yang akan meningkatkan risiko penularan," katanya.

Ia juga berpendapat diperlukan pemisahan rumah sakit, yang khusus menangani COVID-19 dan rumah sakit yang non-COVID.

"Karena pasien non-covid juga tetap perlu penanganan optimal yang aman," kata Dr Brahmana, Ketua IDI Surabaya.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di dunia lewat situs ABC Indonesia

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas