Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

Pakar: Bali Seharusnya 'Lockdown' Ketat Bukannya Malah Dibuka Untuk Turis

Pulau Bali sudah kembali dibuka untuk turis dalam negeri akhir Juli lalu, namun menurut seorang pakar, saat pandemi COVID-19 belum…

Tribun X Baca tanpa iklan

Pulau Bali sebagai destinasi wisata utama di Indonesia sudah kembali dibuka untuk turis dalam negeri akhir Juli lalu, namun menurut seorang pakar, saat pandemi COVID-19 belum menurun seharusnya Bali masih dalam \'lockdown\' ketat.

COVID-19 Bali dan Jawa

  • Bali sejauh ini memiliki 3.600 kasus COVID-19
  • Di Jakarta, kasus aktif sekarang ini adalah 7.700
  • Kepadatan penduduk, gaya hidup dan keberuntungan bisa menjadi faktor pembeda

Hal ini dikatakan oleh Dr Gusti Ngurah Kade Mahardika dokter ahli virus di Universitas Udayana Denpasar kepada ABC, setelah melihat ketidakjelasan angka penyebaran kasus COVID-19 di Indonesia.

Profesor Mahardika mengatakan jumlah kasus di Bali bisa setidaknya enam kali lebih tingi dibandingkan angka resmi dari pihak berwenang.

"Jumlah kasus resmi COVID-19 menurut pemerintah di Bali seperti puncak gunung es dan jumlah sebenarnya bisa beberapa kali lebih tinggi," katanya.

Angka resmi yang dikeluarkan pemerintah Bali sejauh ini mengatakan adanya 3.600 kasus COVID-19 total dengan 500 kasus aktif.

"Di Amerika Serikat, jumlah sebenarnya kasus di sana adalah 6 sampai 24 kali lebih tinggi dari angka resmi. Bila dikalikan enam, berapa jumlah kasus di Bali sekarang ini?

"Menggunakan metode ini, bila kita kalikan 3 ribu kasus, kali 6, jumlahnya sekitar 20 ribu. Jadi apa yang diperlihatkan dalam angka resmi adalah fenomena gunung es."

A woman in a bikini and facemask sits on a deck chair on a beach
Rekomendasi Untuk Anda

Antara Foto via Reuters: Aji Styawan: Bali sudah menerima turis dalam negeri dan mulai 11 September direncanakan akan dibuka bagi turis internasional.

Keberadaan orang tanpa gejala

Salah satu masalah yang dihadapi di Indonesia adalah sedikitnya pengetesan yang dilakukan terhadap warga sehingga angka kasus yang tercatat rendah di berbagai kota .

Dr Pandu Riono dari Universitas Indonesia mengatakan angka sebenarnya bisa 10 kali lebih tinggi, yang berarti di Indonesia sekarang sudah ada hampir 1 juta kasus COVID-19.

"80 persen mereka yang terkena tidak memiliki gejala," katanya.

"Saya tidak tahu persis jumlah yang terkena, namun saya percaya angkanya jauh lebih besar. Bisa 10 kali, atau 20 kali lebih besar, tidak seorang pun yang tahu."

Rendahnya angka pengetesan juga bisa menjadi alasan mengapa Bali memiliki kasus yang rendah dibandingkan Jakarta.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengetesan paling rendah di dunia.

Sejauh ini dari 270 juta penduduk, baru sekitar satu juta yang sudah dites.

Dr Iwan mengatakan meski angka pengetesan rendah, Jakarta sudah lebih banyak melakukan tes dibandingkan Bali dan provinsi lain, karena sumber daya dan laboratorium yang lebih memadai.

"Standar WHO adalah seribu tes per 1 juta penduduk per minggu. Jakarta sudah melakukan lebih banyak tes, Bali tidak melakukannya."

Indonesia berada di peringkat 23 dunia dengan kasus COVID-19 terbanyak saat ini, namun pakar epidemiologi mengatakan jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan angka resmi yang dikeluarkan pemerintah.

Artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris bisa dilihat di sini

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas