Tribun

Menelepon Orang Tercinta Akan Memberikan Efek yang Sama dengan Memakan Kue Atau Cokelat

Pakar gizi dan psikolog di Sydney menjelaskan mengapa saat kita menghadapi situasi yang tidak menentu larinya malah ke makanan.

Seorang ahli gizi di Sydney, May Zaki, mengaku telah menerima belasan telepon dari orang-orang yang mengalami masalah pola makan berlebihan selama lockdown.

May yang tinggal di daerah Birrong, bagian barat Sydney, menyebutkan berbagai keluhan yang diterimanya, mulai dari urusan anak-anak sekolah dari rumah, membayar tagihan dan memenuhi kebutuhan dasar.

Birrong merupakan salah satu pusat penularan Covid-19 di kota itu, sehingga mengalami lockdown lebih ketat daripada daerah lainnya.

"Mereka sangat stres karena lockdown. Jadi satu-satunya sumber kegembiraan adalah makanan," katanya.

Ia menambahkan bahwa masalah ini bukan hanya dialami oleh yang bersangkutan tapi juga suami dan anak-anak mereka yang mengalami kenaikan berat badan.

May berusaha membantu mereka melalui lokakarya online, berbagi tips berdasarkan pengalamannya sendiri yang pernah mengalami gangguan pola makan sehingga berat badan bertambah 20 kilogram.

"Berat badan saya naik dan saya tidak bisa menghentikan dorongan untuk selalu makan. Jujur saja, ini juga terkait dengan rasa malu," ujarnya.

Banyak di antara mereka yang menghubungi May mengatakan kepadanya bahwa mereka juga mengalami perasaan "memalukan".

"Ketika saya makan banyak, saya tidak ingin orang lain di keluargaku tahu bahwa saya makan sebanyak itu. Jadi saya menyembunyikannya di tempat sampah,” katanya.

Beberapa layanan dukungan kesehatan mental mencatat lonjakan permintaan terkait dengan gangguan pola makan selama lockdown, dan mereka yang tinggal di pedalaman lebih sulit mendapatkan bantuan.

Mengapa orang lari ke makanan saat sedih?

Halaman
1234
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas