Tribun

Menelepon Orang Tercinta Akan Memberikan Efek yang Sama dengan Memakan Kue Atau Cokelat

Pakar gizi dan psikolog di Sydney menjelaskan mengapa saat kita menghadapi situasi yang tidak menentu larinya malah ke makanan.

Emosi ini kemudian mendorong potensi untuk mencari pelampiasan seperti makan berlebihan atau ngemil.

"Sejumlah orang menggunakan makanan untuk mengalihkan perhatian dari emosinya. Dalam jangka pendek, makanan memang berfungsi menekan emosi," katanya.

"Cara efektif untuk menangani emosi adalah pertama-tama mengenali emosi itu sendiri, kemudian memperhatikannya dan akhirnya penting untuk menyadarinya.

“Dengan menyadari adanya emosi, kita bisa mengurangi intensitasnya," ucapnya.

May Zaki menambahkan bahwa saat dia marah atau stres dan ingin makan sesuatu, dia berusaha menemukan akar penyebab emosinya, mencoba untuk memecahkan atau menghadapinya.

Itu juga memberinya kekuatan untuk menahan godaan keinginan makan saat merasa sedih.

"Sekarang, saya merasa lebih baik tentang diri saya dengan atau tanpa makan," katanya.

Salah satu nasihat yang dia berikan sebagai ahli gizi agar mengelola emosi adalah juga melatih kesadaran saat menikmati makanan.

"Fokus pada bau, tekstur dan bagaimana rasa makanan itu sebenarnya," kata May.

Dia juga menyarankan untuk membuat jurnal supaya bisa mempelajari pola makan kita, dan mencatat emosi yang terjadi setelah mengkonsumsi makanan tertentu.

"Ini akan membantu kita menemukan pemicunya dan bisa mulai mengatasi akar penyebab pola makan berlebihan," katanya.

"Terkadang kita makan tapi bukan karena tubuh kita membutuhkannya. Jadi masalahnya ada di pikiran, bukan tubuh kita," paparnya.

Artikel ini hanya berisi informasi umum. Silakan menghubungi pekerja profesional kesehatan untuk meminta nasihat terkait dengan keadaan Anda.

Diproduksi oleh Maria Papadopoulos dari artikel ABC News.

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P

Wiki Populer

berita TERKINI
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas