Tribun

Kenapa Cari Investor Untuk Kepulauan Widi Maluku Utara Dilakukan Lewat Lelang?

Kepulauan Widi dengan pasir putih di Indonesia Timur sangatlah indah, tapi hari ini mulai dilelang. Para pejuang lingkungan tidak…

"Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup," kata rumah lelang terkenal Sotheby's di halaman situsnya, disertai foto kepulauan Widi yang memiliki pantai pasir putih dan laut berwarna biru kehijauan.

Kepulauan Widi yang terletak di Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara adalah gugusan dari sekitar 100 pulau yang berada dalam Kawasan Konservasi Laut dengan luas keseluruhan 315 ribu hektar.

Menurut Sotheby's, ini adalah "salah satu properti paling menakjubkan di dunia."

Lelang pengelolaan pulau tersebut akan dimulai hari Kamis ini yang berlangsung selama sepekan.

Mereka yang memberi tawaran tertinggi akan mendapatkan hak untuk mengembangkan daerah tersebut untuk tujuan wisata.

Namun para pegiat lingkungan mengatakan pengembangan ekonomi di kawasan Kepulauan Widi akan berpotensi merusak lingkungan alam sekitarnya.

Kenapa cari investor dengan cara lelang?

Sebuah perusahaan bernama PT Leadership Islands Indonesia (LII) sebelumnya sudah mendapatkan hak pengelolaan selama 35 tahun pada tahun 2015.

Mereka berencana membangun lebih dari 500 "properti ramah lingkungan" di sekitar 17 pulau di sana.

Termasuk dalam rencana tersebut adalah membangun sarana pendaratan pesawat untuk tamu dari Indonesia maupun luar negeri.

Mereka yang akan mengajukan tawaran lelang di Sotheby's harus membayar uang jaminan sebesar Rp1 miliar, selain "surat resmi berkekuatan hukum untuk berinvestasi membangun kepulauan tersebut".

"Pemenang lelang akan mendapatkan saham kepemilikan di LII, bersama dengan tim yang sudah ada saat ini," kata juru bicara LII kepada ABC.

Juru bicara LII juga mengatakan perusahaannya memang meminta Sotheby's untuk melakukan lelang untuk menemukan investor baru.

"Kami menyadari bahwa ini proses yang tidak biasa," katanya.

"LII adalah perusahaan unik yang akan melakukan proyek yang unik, jadi mengapa tidak melakukan proses penggalangan dana yang unik?"

Halaman
123
Ikuti kami di
Berita Lainnya
© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas