Juni Ini 44 Juta Orang Mendadak jadi Miskin
Bank Dunia menegaskan bahwa masalah pangan tidak boleh dipandang enteng.
Penulis:
Srihandriatmo Malau
Editor:
Prawira
Ngozi Iweala, managing director Bank Dunia, seperti dikutip dari CNN, mengungkapkan bahwa semua negara di belahan bumi harus serius menanggapi masalah keamanan pangan yang kini tengah menerpa.
"Saya berpikir bahwa kita harus hati-hati, sebagai sebuah komunitas internasional, jangan membiarkan harga pangan menjadi tidak (hanya) ancaman keamanan nasional di negara-negara, namun kini menjadi ancaman keamanan global," kata Ngozi Iweala, managing director Bank Dunia, Jumat (18/2/2011).
Anomali cuaca yang melanda dunia, berdampak pada krisis pangan dunia. Negara produsen gandum, seperti Cina dan Rusia tengah diterpa masalah kekeringan terburuk. Panen gandum pun mengalami dampak kurangnya produksi. Beberapa negara pun telah menutup kran ekspor sejumlah komoditi pangannya, guna menjaga ketahanan pangan negaranya.
Menurut perkiraan Bank Dunia yang dirilis pekan ini, naiknya harga pangan akan mendorong hampir 44 juta orang menjadi miskin sejak Juni tahun ini.
Sementara itu, harga pangan dunia mengalami kenaikan sebesar 29 persen pada tahun terakhir ini. Berdasarkan data Bank Dunia, tercatat harga meningkat utamannya pada komoditi gula dan gandum sebesar 20 persen; Lemak dan minyak yang digunakan dalam memasak naik 22 persen.
"Penelitian kami menunjukkan kenaikan harga gandum global telah langsung berdampak pada kenaikan tajam harga gandum domestik di banyak negara," kata Robert Zoellick, Presiden Bank Dunia, awal pekan ini.
"Hanya dalam enam bulan, harga gandum meningkat lebih dari 50 persen di Kyrgyzstan, 45 persen di Bangladesh dan Mongolia sebesar 33 persen”. Demikian diutarakannya.
Melihat semua itu, Ngozi Iweala, managing director Bank Dunia menegaskan, bahwa "(masalah keamanan pangan ini adalah sesuatu yang kita harus benar-benar memperhatikan, karena dampak yang paling rentan: anak-anak, wanita, wanita hamil dan meningkatnya orang miskin.”