Gapki: Indonesia Harus Tanggapi Penolakan CPO di AS
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengungkapkan, nilai ekspor crude palm oil (CPO), atau minyak
Penulis:
Srihandriatmo Malau
Editor:
Anwar Sadat Guna
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andri Malau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengungkapkan, nilai ekspor crude palm oil (CPO), atau minyak sawit mentah dan turunannya ke Amerika sangat minim sekali, yakni, hanya mencapai 62 ribu ton CPO dan produknya.
“Kecil sekali tahun 2011 ini, ekspornya hanya 62 ribu ton CPO dan produknya,” ungkap Fadhil kepada Tribunnews.com, di Jakarta, Senin (30/1/2012).
Dengan nilai ekspornya sekitar 68,2 juta dolar AS.
Angka ini, menurutnya jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia, yakni India, Uni Eropa, dan China.
Untuk diketahui, seperti disampaikan Ketua Bidang Pemasaran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Susanto, dalam acara Refleksi Industri Kelapa Sawit 2011 dan Prospek 2012, di Jakarta, Rabu (4/1/2012) bahwa produksi minyak kelapa sawit (CPO) tercatat sebesar 23,5 juta ton dengan nilai ekspor mencapai 16,5 juta ton sepanjang 2011.
Namun, tegasnya, meskipun dalam jumlah ekspor yang kecil, Gapki tidak memandang sebelah mata atas notifikasi EPA, yakni otoritas setempat yang konsen pada persoalan lingkungan hidup, yang menolak CPO Indonesia di Amerika Serikat.
Sebelumnya, Amerika mengeluarkan keputusan melalui notifikasinya bahwa crude palm oil (CPO), atau minyak sawit mentah dan turunannya dari Indonesia tidak boleh diperdagangkan di negeranya.
Hal ini disebabkan palm oil Indonesia dinilai tidak ramah lingkungan.
"Sebenarnya mereka sudah mengajukan hal tersebut kurang lebih dua minggu lalu. Hari ini kita baru dapat konfirmasi bahwa Noda EPA, yakni otoritas setempat yang konsen pada persoalan lingkungan hidup. Noda EPA keluar hari ini, kalau di Amerika, kemarin (27/1/2012)," ungkap Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, akhir pekan lalu.
Atas hal itu, menurutnya harus ditanggapi oleh stakeholder sawit. Sekarang, pihaknya sedang dalam proses memberikan tanggapan terhadap data, asumsi, dan model yang AS kembangkan.