Produk CPO Indonesia Masih di Bawah Standar
Atase Pertanian Agrikultur Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Denis Voboril, mengatakan bahwa Crude Palm Oil (CPO)
Penulis:
Adiatmaputra Fajar Pratama
Editor:
Anwar Sadat Guna
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fajar Pratama
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Atase Pertanian Agrikultur Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Denis Voboril, mengatakan bahwa Crude Palm Oil (CPO) di Amerika sangat dibutuhkan.
Alasan CPO sangat dibutuhkan di Amerika, kata Denis karena CPO adalah energi terbarukan dan ramah lingkungan dalam produksinya.
"Pemerintah Amerika punya beberapa peraturan terkait produk untuk udara bersih. Crude Palm Oil atau CPO merupakan salah satu energi terbarukan yang masuk ke dalam kategori untuk udara bersih," ujar Denis saat hadir dalam konferensi pers yang digelar di Kementerian Pertanian, Senin (13/2/2012).
Terkait isu bahwa AS memboikot Crude Palm Oil (CPO) atau produk minyak sawit mentah dan turunannya dari Indonesia, Denis menyatakan bahwa sejauh ini pemerintah AS masih mengkaji hal itu.
Hal itu didasarkan dari hasil pengkajian Enviromental Protection Agency (EPA) bahwa produk minyak kelapa sawit Indonesia masih di bawah standar, yakni hanya 17%.
Menurut EPA, Indonesia harus bisa memenuhi standar produksi CPO minimal 20% agar bisa mengimpor kembali minyak kelapa sawit.
Mengenai energi terbarukan, AS juga memiliki sumber energi yang lain. Selama ramah lingkungan, Amerika akan banyak memproduksi hal tersebut. "Tidak hanya pada bahan Crude Palm Oil saja, kita tidak fokus hanya itu, tapi ada juga bahan lain," ungkap Denis.