Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Indonesia Pengguna Software Bajakan Terbesar Dunia

Berdasarkan riset Business Software Alliance (BSA) dan Ipsos Public Affairs 2010 menyebutkan, dari sisi perilaku pengguna dan kurangnya penegakan

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Anwar Sadat Guna

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hasanuddin Aco

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan riset Business Software Alliance (BSA) dan Ipsos Public Affairs 2010 menyebutkan, dari sisi perilaku pengguna dan kurangnya penegakan hukum untuk penggunaan software ilegal, Indonesia berada di urutan 7 terhadap penggunaan software ilegal (tanpa lisensi) dari 32 negara di dunia.

BSA melakukan survei terhadap 400-500 responden di 32 negara. Secara global BSA melaporkan bahwa 74 persen pengguna komputer pribadi di dunia menggunakan software ilegal.

Lebih jauh lagi, berdasarkan tingkat pemakaian software bajakan, IDC (International Data Corporation) dalam 2010 Piracy Study yang dirilis Mei 2011 menyatakan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-11 dengan jumlah pemakaian software bajakan sebesar 87 persen.

Sementara studi dampak pemalsuan terhadap perekonomian Indonesia yang dilakukan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM UI) pada 2010 menyatakan, produk software palsu menjadi salah satu produk yang banyak digunakan konsumen Indonesia sepanjang 2010 yakni sebesar 34,1 persen.

Sekjen MIAP Justisiari P Kusumah di Jakarta, Kamis (16/2/2012), mengatakan MIAP sebagai salah satu komponen masyarakat merasa ikut bertanggungjawab untuk mensosialisasikan fakta bahwa dengan adanya peredaran dan penggunaan barang palsu dan barang bajakan secara langsung telah menyebabkan kerugian negara serta hilangnya kesempatan kerja.

"Jadi argumen yang mengatakan kegiatan pemalsuan dan pembajakan telah mendorong perekonomian negara dan menciptakan lapangan kerja tersebut adalah merupakan argumen yang tidak valid karena jelas dari hasil studi justru kegiatan tersebut membawa dampak negatif," ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas