Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Wapres Berperan Jadi Dosen Paparkan Kenaikan Harga BBM

Tampaknya latar belakang dosen masih mendarah daging dalam diri Wakil Presiden Boediono.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Anwar Sadat Guna

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andri Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tampaknya latar belakang dosen masih mendarah daging dalam diri Wakil Presiden Boediono.

Dalam "sidang kabinet" bersama para awak media, Selasa (20/3/2012), dengan agenda bahasan Penyesuaian Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsidi, Boediono menyatakan kerinduan kembali menjadi dosen.

“Saya ingin jadi dosen. Kalau dengan gambar bisa, dari pada kata-kata,” demikian Wapres yang pernah tercatat menjadi dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Baik, teman-teman, saya ingin sampaikan satu hal. Sekarang ini wacana mengenai penyesuaian harga BBM dikaitkan dengan APBN-P dan program-program yang
mendukung dan sebagainya."

"Saya ingin menggaris bawahi satu hal. Upaya kita menyesuaikan ini adalah untuk penyesuaian APBN-P kita. Sebenarnya yang kita inginkan adalah untuk mengobati satu hal ini,” demikian Boediono menjelaskan kepada para stafnya dan awak media, di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (20/3/2012).

Layaknya seorang dosen, Boediono yang mengenakan kemeja safari berwarna putih, berdiri, dan memegang alat tulis menuju ke papan tulis yang telah tersedia.

Rekomendasi Untuk Anda

“Saya gambar ya,” demikian ucapnya.
Untuk menjelaskan alasan kenaikan harga BBM subsidi, Wapres pun memakai ilustrasi dengan gambar. “BBM bersubidi itu gambarnya seperti ini. Ini suatu tabung, dan ada krannya,” lanjutnya menerangkan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan BBM bersubdisi dimasukkan dalam tabung dan distribusikian kepada masyarakat dengan harga Rp 4.500. Ditegaskannya, kalau ini aliran masuk dan aliran keluar seimbang, maka sistemnya stabil. Tapi, imbunya, kalau tidak seimbang, maka tidak akan stabil.

“Kenapa tidak seimbang?” tanyanya. “Karena harga di dalam negeri Rp 4.500 per liter itu jauh di bawah harga keekonomiannya. Kalau harga minyak mentah harga keekonomiannya Rp 8.000 ke atas. Harga jualnya bisa lebih tinggi dari itu, karena ada distribusinya,” jelasnya.

Ditegaskannya, di negara-negara tetangga Indonesia, seperti Taiwan, Filipina, Timor Leste, dan negara lainnya, harga BBM berada di antara Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per liter.

“Akibatnya apa? ada yang bocor di sini,” ujarnya sambil menjelaskan pada gambar adanya kebocoran pada tabung. “Ini adalah BBM subsidi yang tidak digunakan untuk sasaran, apakah itu untuk industri yang harusnya membayar keekonomian, apakah itu diselundupkan keluar. Karena itu bedanya sangat menguntungkan.”

“Siapa yang tidak akan senang melihat ini (selisih harga jual dalam negeri dan keekonomian, harga dunia). Jadi ini banyak yang melihat penyimpangan, untuk yang subsidi. Semakin besar itu (besaran kuota BBM), ya semakin besar bocornya. Kalau kita jokin berapapun ya larinya ke sini,” jelasnya.

Ditegaskannya, bahwa penyesuaian harga BBM dilakukan untuk menekan terjadinya penyimpangan distribusi, penyelundupan BBM.

“Jadi intinya yang ingin saya sampaikan, ada kebocoran, apa yang kita lakukan untuk menyesuaikan harga BBM untuk keekonomian. Itu untuk mengurangi ini,” demikian ia menjelaskan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas