Peternak Bebek Bandung Keluhkan Pembagian Keuntungan
Ratusan peternak bebek yang tergabung dalam Himpunan Peternak Bebek Indonesia
Editor:
Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Ratusan peternak bebek yang tergabung dalam Himpunan Peternak Bebek Indonesia (HPBI) wilayah Kabupaten Bandung mengeluhkan minimnya dukungan dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung.
Pasalnya, banyak peternak merasa usahanya tidak mengalami peningkatan dan perkembangan selama beternak. Seperti yang terjadi di Kelompok Peternak Bebek Karya Adika di Kampung Bojong Gempol, RT 2 RW 04, Desa Haur pugur, Kecamatan Rancaekek, Kabupatan Bandung.
Kelompok yang beranggotakan sepuluh orang ini merasa kewalahan melayani permintaan bebek potong karena memiliki keterbatasan modal. Padahal permintaan bebek potong di wilayah Bandung cukup tinggi, yakni sekitar 6.000 ekor setiap harinya. Sedangkan setiap kelompok ternak hanya mampu memproduksi 250-500 ekor per harinya.
"Kami tidak membutuhkan bantuan. Tapi kami hanya membutuhkan pengarahan dan dari dinas terkait bisa memfasilitasi agar bisa menjalankan peternakan bebek dengan baik," ujar Ketua II HPBI Kabupaten Bandung, Dadang Supriatna (32), ketika ditemui Tribun, Senin (27/8/2012).
Dadang mengatakan, Kanada dan Malaysia sudah mau menampung bebek potong dari Kabupaten Bandung. Kedua negara itu mau menampung 10.000-20.000 ekor bebek potong.
"Kami ingin Kabupaten Bandung punya peternakan bebek yang bisa dikenal. Ini juga mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Kabupaten Bandung. Karena peluang bebek potong cukup berpotensi karena harganya stabil," katanya.
Menurut Dadang, per ekor bebek potong dijual Rp 30.000 - Rp 35.000. "Tergantung kesepakatan dengan restoran yang memasok bebek potongnya," ujarnya.
Solusi yang ditempuh sejumlah peternak bebek di Bandung Timur selama ini hanya mengandalkan investor lokal. Akan tetapi pembagian keuntungannya memberatkan peternak. "Untung kami hanya 40 persen. Kami yang kerja, kami membeli pakan, dan kami yang memasarkan," ujarnya.
Setiap ekornya, kelompok peternak hanya mendapatkan Rp 3.000- Rp 5.000 jika memasok bebek potong ke restoran. Sedangkan, jika menjadi suplier setiap ekor bebek potong bisa mendapatkan untung Rp 1.000 sampai Rp 2.000. "Total produksi kami 28.000 per ekornyan" ujarnya.
Kesulitan para peternak bertambah lantaran mereka sulit mendapat akses untuk meminjam modal ke bank. Bahkan, para peternak tidak pernah mendapatkan informasi tentang program peminjaman modal dari pemerintah yang ditujukan untuk usaha menengah ke bawah.
"Selama ini bantuan untuk kemitraan tingkat usaha menengah ke bawah seperti, kredit usaha rakyat dan kredit cinta rakyat, sangat sulit ditembus. Namun untuk pengusaha besar sangat mudah mendapatkan pinjaman. Ada ketidakadilan terhadap rakyat kecil," ujarnya.