Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun Bisnis
LIVE ●
tag populer

Pertumbuhan Kredit Melambat

Perlambatan pertumbuhan kredit menjadi salah satu indikator belum terjadinya pemanasan ekonomi.

Editor: Sugiyarto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonomi Indonesia masih melaju kencang di tengah krisis ekonomi global. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) menegaskan sampai saat ini belum ada tanda-tanda pemanasan ekonomi (over heating). Perlambatan pertumbuhan kredit menjadi salah satu indikator belum terjadinya pemanasan ekonomi.

Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo mengatakan setidaknya ada empat indikator yang membuat ekonomi Indonesia belum melebihi kapasitasnya. Pertama, diukur dari pertumbuhan ekonominya, tahun ini ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 6,3% masih di bawah angka potensialnya yang sebesar 6,7%.

Kedua, meski ekonomi tumbuh tapi tidak ada tekanan pada harga. Ini terbukti dengan rendahnya angka inflasi. Laju inflasi Januari - September 2012 hanya sebesar 3,79% dan inflasi tahunan sebesar 4,31%.

Ketiga, dari sisi pertumbuhan kredit yang justru menurun. "Laju pertumbuhan kredit melambat pada Agustus 2012 menjadi 23,9% turun dari Juli yang mencapai 25%," jelas Perry akhir pekan lalu.

Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution mengungkapkan, perlambatan kredit terutama terjadi pada kredit modal kerja. Pada Agustus 2012 kredit modal kerja hanya tumbuh 20,23% year on year.

Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah menambahkan, berdasarkan pengamatan BI, beberapa korporasi cenderung berhati-hati dalam mencairkan kredit. "Terutama kredit yang berkaitan dengan kegiatan ekspor, korporasi mulai mengurangi penarikan kreditnya. Sehingga beberapa waktu terakhir kreditnya melambat," katanya pekan lalu.

Alasan keempat belum terjadinya over heating di dalam negeri adalah defisit transaksi berjalan yang masih cukup tinggi. Pada kuartal III 2012 BI memperkirakan defisit transaksi berjalan bakal mencapai US$ 5,7 miliar.

Rekomendasi Untuk Anda

Perry mengatakan, tingginya defisit transaksi berjalan disebabkan karena penurunan kinerja ekspor akibat pelemahan permintaan impor. Sementara itu, impor masih tumbuh lumayan tinggi.

Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistyaningsih mengatakan kegiatan investasi yang berbasis ekspor memang menurun. Tapi, di dalam negeri investasi yang berbasis domestik masih cukup kuat. Sehingga masih ada kegiatan impor meski tidak sekencang semester I.

Lana juga bilang, pelemahan nilai tukar juga membuat impor sedikit melambat. "Kegiatan impor sebenarnya masih normal, tapi karena pelemahan nilai tukar maka impor sedikit melambat," katanya baru-baru ini.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menambahkan, laju impor pada semester II ini akan tetap kencang. Hanya saja, kondisi defisit transaksi berjalan tak akan lebih buruk ketimbang semester I tahun ini.

Nah, dengan fundamental ekonomi Indonesia yang cukup baik, Perry yakin arus modal masuk ke dalam negeri masih besar.  Namun, ia juga mengingatkan masih ada risiko pelarian modal jika indikator ekonomi global memburuk. "Saat ini banyak hal sentimen yang positif, sehingga risiko (capital outflow) menurun," jelasnya. (*)

BACA JUGA:


Sumber: Kontan
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Atas