Rupiah Tekan Perekonomian Indonesia
Melemahnya nilau tukar rupiah mengandung resiko yang besar terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Editor:
Budi Prasetyo
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNNEWS.COM, YOGYA - Melemahnya nilau tukar rupiah, menurut OCBC Treasury Research & Strategy OCBC Bank Singapore, Gundy Cahyadi, mengandung resiko yang besar terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Data pertumbuhan ekonomi Triwulan I yang tercatat sedikit mengecewakan di 6,0 persen yoy, menurutnya, telah menunjukkan kesan adanya dampak-dampak yang negatif dari melemahnya rupiah terhadap laju pertumbuhan konsumsi dan juga investasi dalam negeri. Hal ini sebenarnya tidak mengejutkan kalau mengingat pertumbuhan impor sendiri yang telah melemah cukup signifikan pada beberapa bulan terakhir.
"Nilai rupiah yang melemah telah menurunkan daya beli konsumen dan juga pemilik usaha di Indonesia," ujarnya pada Kamis (23/5/2013).
Sementara dari sisi ekspor, pelemahan rupiah tidak terlalu berpengaruh karena kebanyakan barang-barang yang diekspor dari Indonesia adalah komoditas. Karena barang komoditas, maka secara fundamental cenderung lebih price inelastic, yang berarti tingkat konsumsinya tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan harga. Kalau memang recoveri perekonomian dunia masih belum terlihat mantap, maka ada kemungkinan yang sangat besar kalau laju pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jadi akan terus menurun, ditambah rupiah yang masih terus melemah.
"Karenanya, komitmen dari pemerintah dan BI untuk terus menjaga kestabilan rupiah di market untuk menghindari perlemahan yang cenderung excenssive, bisa dipercayai," lanjutnya.
Rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menurutnya merupakan satu perkembangan yang positif untuk macro risk profile Indonesia, dan bisa jadi membantu posisi current account defisit Indonesia, setidaknya pada jangka waktu dekat ini. Yang lebih penting, sambungnya, adalah berupaya memonitori program- program yang akan diumumkan pemerintag untuk mendongkrak peningkatan produktivitas dalam negeri, terutama di sektor manufaktur atau industri. (*)