DPR: Bayar Utang Jadi Salah Satu Pemicu Rupiah Melemah
Anggota Komisi XI DPR dari Demokrat, Achsanul Qosasi mengatakan terdapat tiga penyebab nilai tukar rupiah terhadap
Penulis:
Srihandriatmo Malau
Editor:
Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Anggota Komisi XI DPR dari Demokrat, Achsanul Qosasi mengatakan terdapat tiga penyebab nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika melemah akhir-akhir ini.
Membaiknya ekonomi Negeri Paman Sam menurutnya menjadi salah satu pemicu dolar AS menguat atas rupiah.
"Namun bila dibandingkan dengan mata uang lain itu melemahnya tidak signifikan. Artinya kita hanya melemah terhadap dolar," ungkap Achsanul di Kompleks Gedung DPR, Jakarta, Rabu (12/6/2013).
Sedangkan pemicu di dalam negeri sendiri, setiap enam bulan Pertamina membutuhkan dolar yang cukup besar. Pun demikian dalam enam bulan triwulan pertama, Pemerintah melakukan pembayaran utang luar negeri.
"Jadi timingnya pas. Pada saat yang sama bareng ketemunya," ucapnya.
Selain itu, melemahnya rupiah juga dipicu oleh banyaknya investor pasar modal melakukan aksi jual. "Sebagai ketidakpastian kebijakan BBM itu terjadi. Otomatis rupiah tertekan dan IHSG merosot terus," jelasnya.
Menyikapi melemahnya rupiah ini, menurutnya, Bank Indonesia pun memiliki keterbatasan untuk melakukan intervensi agar rupiah tidak tertekan atas dollar.
"Mengguyur rupiah ke pasar BI terbatas duitnya," jelasnya.
Namun, Politisi Demokrat ini yakin bahwa melemahnya rupiah atas dolar AS ini hanya bersifat sementara. Tidak akan berkepanjangan. "Hanya sementara saja," tegasnya.
Sementara itu, di tempat berbeda, Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri tidak yakin nilai tukar rupiah anjlok terhadap dolar AS terjadi sampai Lebaran Agustus 2013 nanti. "Enggak. Ini temporer (pelemahan sementara)," kata Chatib di Istana Negara Jakarta, Rabu (12/6/2013).
Menkeu hadir di Istana menemui Presiden SBY. Menurut Menkeu, dengan Presiden dibahas soal situasi perekonomian terkini secara umum termasuk melaporkan perkembangan ekonomi Indonesia terkait dengan apa yang terjadi di pasar modal, rupiah, bond market. "Saya melaporkan bahwa kita sudah koordinasi dengan BI (soal pelemahan rupiah),' kata Chatib.
Lanjut Chatib kalau dilihat kurs rupiah terakhir kemarin sudah di kisaran Rp 9.800-an per dolar AS meskipun di stock market ada koreksi 167 point minus 3,5 persen. "Tetapi Indonesia bukan yang terburuk, karena yang terburuk kemarin itu Bangkok dan Manila, di atas 4,5-4,9 persen," kata Menkeu.
Baca tanpa iklan