Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Masyarakat Lebih Pilih Instrumen Investasi Tradisional

Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih memilih instrumen investasi tradisional seperti tabungan dan kepemilikan rumah.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Johnson Simanjuntak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Temuan Manulife Investor's Sentiment Index (MISI), masyarakat Indonesia masih tidak mau berinvestasi pada berbagai instrumen investasi yang tersedia di pasar keuangan.

Mereka mengabaikan produk-produk pasar modal yang sebenarnya memberikan imbal hasil lebih baik, seperti saham, pendapatan tetap, dan reksa dana.

Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih memilih instrumen investasi tradisional seperti tabungan dan kepemilikan rumah.

“Sentimen investor ritel terhadap saham dan pendapatan tetap menunjukkan peningkatan, yang kami lihat sebagai dampak dari sentimen positif atas pemilu presiden yang baru saja berlangsung,” kata Director of Business Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Putut Endro Andanawarih dalam keterangan resmi, Jumat (26/9/2014).

Putut mengungkapkan, pihaknya memperkirakan investor akan memperhatikan pemerintahan yang baru dengan sungguh-sungguh untuk melihat bagaimana pemerintahan baru ini merespon isu-isu seputar pengurangan subsidi energi dan meningkatkan belanja infrastruktur.

Dengan asumsi situasi politik berjalan dengan mulus, kondisi ekonomi saat ini mendukung harga-harga aset.

“Kami melihat manfaat dari meningkatkan eksposur terhadap saham dan pendapatan tetap dibandingkan dengan dana tunai. Walaupun begitu, kami mengerti bahwa sebagian masyarakat Indonesia mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk mengikuti perkembangan pasar. Dalam hal ini, reksa dana yang dikelola secara profesional dapat menjadi pilihan yang nyaman dan terjangkau bagi setiap individu," ujar Putut.

Rekomendasi Untuk Anda

Memang, tingkat melek produk keuangan masyarakat Indonesia memang masih memperihatinkan. Menurut riset yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 21,8 persen.

Artinya, dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia, baru 52 juta jiwa saja yang benar-benar paham tentang industri keuangan dan produk jasa keuangan. Dari enam produk keuangan yang tersedia, baru bank yang cukup dikenal masyarakat (57,28 persen).

Hasil riset OJK juga menunjukkan, tingkat pemahaman paling rendah terdapat di pasar modal, yakni hanya 0,11 persen. Sisanya hampir merata di sektor perasuransian (11,81 persen), lembaga pembiayaan (6,33 persen), pergadaian (5,04 persen), dana pensiun (1,53 persen).

Sumber: Kompas.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas