Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun Bisnis
LIVE ●
tag populer

Warga Singapura Serbu Ringgit Malaysia

Ada pemandangan yang tak biasa di sejumlah money changer atawa tempat penukaran uang di Singapura, pada Rabu (3/12/2014) kemarin

Editor: Sanusi

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Ada pemandangan yang tak biasa di sejumlah money changer atawa tempat penukaran uang di Singapura, pada Rabu (3/12/2014) kemarin. Antrean warga Singapura di sejumlah money changer menjadi penyebabnya.

Rupanya, warga Singapura tersebut berbondong-bondong memburu ringgit. Sebab, kemarin, nilai tukar ringgit jatuh dan mendekati level terendahnya dalam 10 bulan terakhir versus dollar Singapura. Bahkan, jika berhadapan dengan dollar AS, nilai tukar mata uang Negeri Jiran merosot ke level terendah dalam lima tahun.

Pelemahan ringgit terkait dengan kecemasan pelaku pasar bahwa rendahnya harga minyak akan memukul perekonomian Malaysia. Seperti yang diketahui, Malaysia merupakan negara eksportir minyak dan produser CPO.

Menurut ekonom, anjloknya harga minyak dapat menghambat kemajuan fiskal perekonomian Malaysia.

"Saat ini, defisit neraca perdagangan Malaysia cukup kronis. Saat mereka mengambil langkah-langkah untuk mengatasi defisit lewat pemangkasan subsidi, kemajuan tersebut akan tergerus seiring rendahnya pendapatan dari ekspor minyak," jelas Vishnu Varathan, senior economist Mizuho Bank.

Pada pekan lalu, perusahaan minyak milik pemerintah Malaysia Petronas, mengatakan bahwa pembayaran dividen, pajak, dan royalti kepada pemerintah kemungkinan akan turun pada tahun depan sebesar 37 persen jika harga minyak masih berada di kisaran 75 dollar AS per barel.

"Tidak akan mudah untuk memperbaiki kondisi fiskal. Mereka harus mencari sumber pendapatan lain," ujar Varathan.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal senada juga diungkapkan oleh Michael Wan, ekonom Credit Suisse. Menurutnya, turunnya harga minyak juga dapat memukul pertumbuhan ekonomi Malaysia.

"Sepertinya, penurunan pendapatan dari rendahnya harga minyak berarti pemerintah harus memangkas anggaran infrastruktur agar dapat mencapai target penurunan defisit sebesar 3 persen di 2015," jelas Wan.

Credit Suisse menurunkan prediksi nilai tukar ringgit versus dollar AS menjadi 3,49 untuk tiga bulan ke depan dan 3,53 dalam 12 bulan ke depan, dari sebelumnya 3,38 dan 3,42. Kemarin, nilai tukar ringgit versus dollar AS berada di level 3,44. (Barratut Taqiyyah)

Sumber: Kontan
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Atas