Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Harga Melambung, Tata Niaga Jagung Kacau

Kondisi itu membuat harga jagung melambung tinggi dan berdampak pada pasokan pakan ternak.

Harga Melambung, Tata Niaga Jagung Kacau
Sriwijaya Post/Odi Aria Saputra
Petani jagung panen raya di kebun Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (16/9/2015). Jika pada panen sebelumnya mereka hanya bisa menghasilkan 4-5 ton jagung, pada panen raya kali ini para petani mendapatkan hasil sekitar 6-10 ton. 

JAKARTA - ‎Ketua Komisi IV DPR RI, Edhy Prabowo menyayangkan buruknya data komoditas pangan seperti jagung yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian.

Kondisi itu membuat harga jagung melambung tinggi dan berdampak pada pasokan pakan ternak.

"Kenapa kondisi ini bisa terjadi. Kementan yakin bisa surplus jagung tahun ini. Apa langkahnya benar atau gimana? Kok tiba-tiba sekarang ada pengaruh begitu ekstrem. Tiba-tiba harga jagung naik dari Rp 2 ribu menjadi Rp 7 ribu," kata Edhy di rapat dengar pendapat di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/2/2016).

Komisi IV menggelar rapat dengar pendapat dengan Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti, Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Hasil Sembiring, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno, Kepala Badan Karantina Banun Harpini, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) FX Sudirman dan sejumlah ketua asosiasi perunggasan di ruang rapat komisi IV‎.

Di forum ini Edhy juga mempertanyakan data Dirjen Tanaman terkait terkait produksi jagung. Tidak jelasnya data tersebut disinyalir sebagai penyebab mahalnya harga komoditi itu.

‎"Produksi ‎jagung yang dilaporkan ke kita kalau benar ada 20 juta ton dan bila sesuai target bisa 24 juta ton. Kebutuhan pigmill (pabrik pakan ternak) hanya 7 juta ton saja. Terus dimana jagung itu, kenapa mahal seperti sekarang?" tanyanya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPR, Daniel Johan mengatakan, hilir dari polemik jagung impor yang tak kunjung diuraikan adalah keraguan data yang dipakai pemerintah sebelum memutuskan kebijakan.

"Sebenarnya data di lapangan itu bagaimana? Kalau datanya morat-marit kayak begini, yah perencanaan jadinya ngaco, rakyat yang jadi korban," ujar Daniel.

Kementerian Pertanian, lanjut Daniel selalu mengatakan produksi jagung Rp 22,8 juta ton. Sementara kebutuhan jagung nasional sebesar 21,4 juta to‎n.

"Kebijakan yang diambil berdasarkan data yang keliru ini pula yang terlihat dari naiknya harga jagung secara tiba-tiba pasca dilarangnya impor jagung. Rentet kebijakan yang benar atau datanya yang ngaco? Harus dipikirkan bagaimana kita dapat data yang lebih aktual dan faktual,"‎ tandas Daniel.

Penulis: Muhammad Zulfikar
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas