Sentimen Negatif Akan Terus Bayangi Saham Rokok
"Sentimen ini bertahan sampai simpang siur isu ini sudah mereda, karena harga cukai rokok ditentukan oleh pemerintah"
Penulis:
Seno Tri Sulistiyono
Editor:
Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sentimen negatif akan terus membayangi pergerakan saham produsen rokok, hingga ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait isu kenaikan cukai rokok
Analis Danareksa Capital Guntur Tri Hariyanto mengatakan, merosotnya harga saham produsen rokok karena adanya isu kenaikan harga rokok yang sangat tinggi, sehingga investor khawatir akan terjadi penurunan kinerja dari masing-masing produsen rokok.
"Sentimen ini bertahan sampai simpang siur isu ini sudah mereda, karena harga cukai rokok ditentukan oleh pemerintah dan saat ini rencana kenaikan sinifikan belum dibicarakan resmi oleh pemerintah," ujar Guntur kepada Tribunnews.com, Jakarta, Senin (22/8/2016).
Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada, anjloknya saham rokok pada perdagangan hari terdorong oleh sentimen negatif kenaikan rokok dan akhirnya dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk ambil untung.
"Isu ini membuat pelaku pasar memanfaatkan sekalian profit taking. Sentimen ini bisa mereda sampai ada kejelasan dari manajemen benar atau tidaknya rencana tersebut," ucap Reza.
Mengutip data Bloomberg pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini, saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) turun 1,73 persen atau 70 poin ke level Rp 3.970 per saham.
Saham Gudang Garam Tbk (GGRM) tegerus 1,80 persen atau 1.230 poin ke posisi Rp 66.800 per saham.
Kemudian, saham Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) merosot 1 persen atau 4 poin di angka Rp 396 per saham.
Sementara, saham Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) tidak mengalami perubahan atau stagnan di posisi Rp 460 per saham.