Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Untuk Bangun Pabrik Smelter di Gresik, Freeport Tunggu Lahan Hasil Reklamasi

Dari capex sebesar 212,85 juta yang sudah terserap, progres smelter belum tampak fisiknya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Untuk Bangun Pabrik Smelter di Gresik, Freeport Tunggu Lahan Hasil Reklamasi
TRIBUNNEWS/ADIATMA FAJAR
Kiri ke kanan: Direktur Utama PT Freeport Indonesia Chappy Hakim, Direktur and Executive Vice President PT Freeport Indonesia Clementino Lamury dan Direktur Jenderal Minerba Bambang Gatot Ariyono. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Freeport Indonesia menyatakan sudah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) 212,85 juta dollar AS untuk bangun pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter).

Sedangkan total investasi yang harus disiapkan mencapai 2,2 miliar dollar AS.

Dari capex sebesar 212,85 juta yang sudah terserap, progres smelter belum tampak fisiknya.

Direktur and Executive Vice President Freeport Indonesia Clementino Lamury memaparkan alasan pembangunan belum berjalan karena kendala lahan.

"Jadi memang realisasi lapangan belum terlihat, karena memang di dua lahan yang sedang kami siapkan memang belum merupakan tanah yang ready," ujar Clementio di Rapat Dengar Pendapat dengan DPR Komisi VII, Jakarta, Rabu (7/12/2016).

Baca: Freeport Baru Akan Bangun Smelter Kalau Kontraknya Diperpanjang Pemerintah RI

Clementio menyebutkan lahan yang akan dibangun smelter butuh reklamasi dan penguatan tanahnya. Sehingga capex yang dikeluarkan Freeport sebagian besar untuk persiapan lokasi saja.

"Jadi perlu ada persiapan lahan, perlu direklamasi dan tanahnya walaupun direklamasi perlu ada soil improvement atau perbaikan penguatan lahan," ungkap Clementio.

Rekomendasi Untuk Anda

Clementio memaparkan anggaran untuk lahan sebesar 4,03 juta dollar AS. Karena lahan yang diambil untuk bangun smelter 80 persen milik Petrokimia, maka harus dilakukan reklamasi.

"Terus walaupun sudah selesai secara umum, ada yang belum kuat juga walaupun sudah direklamasi. Lahannya belum kuat," jelas Clementio.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas