Ini Penyebab Rupiah Terus Bergerak Menguat
Usai pidato Donald Trump saat pelantikan menjadi Presiden Amerika Serikat, dolar AS terus melemah.
Penulis:
Seno Tri Sulistiyono
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Usai pidato Donald Trump saat pelantikan menjadi Presiden Amerika Serikat, dolar AS terus melemah.
Analis FXTM Lukman Otunuga mengatakan, pelemahan mata uang negeri Paman Sam tersebut dikarenakan faktor kurangnya kejelasan Trump mengenai langkah stimulus fiskal dan mengindikasikan proteksionis, sehingga kekhawatiran perdagangan pun meningkat.
"Para penjual segera memanfaatkan kurangnya kejelasan dalam pidato ini mengenai proposal langkah stimulus fiskal untuk menyerang Indeks Dolar," ujar Lukman, Jakarta, Selasa (24/1/2017).
Menurut Lukman, Trump pada pekan ini berencana untuk berdiskusi dengan para pemimpin negara Kanada dan Meksiko untuk memulai renegosiasi perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara.
"Walaupun aksi jual dolar mungkin berlanjut karena spekulasi stimulus fiskal pasar menurun, potensi kenaikan suku bunga AS tahun ini akan membatasi penurunan di jangka menengah dan panjang," tutur Lukman.
Sementara sentimen dari dalam negeri, kata Lukman, saat ini pasar akan tertuju pada laporan inflasi dalam negeri yang akan dirilis yang diharapkan menjelaskan situasi Indonesia di tengah ketidakpastian global saat ini.
"Inflasi yang sesuai ekspektasi dapat meningkatkan keyakinan terhadap Indonesia sehingga rupiah mungkin menguat terhadap dolar AS," ujar Lukman.
Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 13.23 WIB, rupiah menguat 56 poin atau 0,42 persen ke level Rp 13.313 per dolar AS.