Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Bareskrim Polri Bongkar Modus Jahat yang Bikin Harga Cabai Tetap Mahal di Pasar

Seharusnya cabai hasil penen petani dari sejumlah sentra di Solo dan Jawa Timur itu didistribusikan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Bareskrim Polri Bongkar Modus Jahat yang Bikin Harga Cabai Tetap Mahal di Pasar
Tribun Kaltim/Muhammad Arfan
Lapak pedagang cabai rawit di Pasar Induk Bulungan, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu (11/1/2017). TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bareskrim Polri bersama Kementerian Pertanian dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) membongkar konspirasi jahat antara pengepul dan perusahaan pengguna cabai rawit merah yang membuat harga komoditi masyarakat tersebut melejit hingga Rp180 ribu/kg di pasaran sejak tahun lalu.

Ketiga pihak merilis bersama pengungkapan kasus tersebut di kantor Bareskrim Polri, Gedung KKP, Jakarta, Jumat (3/3/2017).

Kasubdit Industri dan Perdagangan (Indag) Ditektorat II Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri,

Kombes Pol Hengki Hariyadi mengungkapkan, dari penelusuran terungkap adanya kesepakatan jahat antara para pengepul atau supplier cabai rawit merah untuk menjual cabai hasil panen petani ke perusahaan-perusahaan pengguna cabai tersebut.

Seharusnya cabai hasil penen petani dari sejumlah sentra di Solo dan Jawa Timur itu didistribusikan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Harga yang disepakati dan dipatok sekumpulan pengepul tersebut terbilang fantastis.

Jika harga cabai rawit merah dari petani hanya Rp10 ribu/kg, justru dipatok dan dijual oleh para pengepul tersebut ke perusahaan hingga Rp 181 ribu.

Hasil penelsuuran, biasanya untuk pengiriman 50 ton cabai rawit merah dari satu sentra penghasil cabai ke Pasar Induk Kramat Jati, justru sebanyak 80 persennya dijual ke perusahaan-perusahaan pengguna cabai tersebut.

"Kami temukan fenomena cabai ini yang seharusnya dikirim ke Pasar Induk Kramat Jati untuk parameter harga, justru kami temukan barang itu lari dan dibelokkan ke beberapa perusahaan dengan harga tinggi. Setelah diperiksa dimulai Desember tahun lalu, ternyata cocok," ungkap Hengki.

Selain itu, ada juga modus lain yang dilakukan oleh para pengepul yakni dengan sistem penjualan konsinyasi. Para pengepul dan petani melakukan kesepakatan menjual cabai hasilnya panennya dengan harga tinggi, semisal Rp70 ribu/kg langsung ke pedagang besar.

Pemain modus tersebut juga orang-orang yang sama. "Orangnya (pelakunya) sama, itu-itu saja. Ini dugaan kami sehingga harga cabai rawit merah menjadi tinggi," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Abdul Qodir
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas