Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun Bisnis

Mahalnya Material Membuat Harga Properti Melambung

Kemahalan harga material properti dan ketimpangan pasokan rumah (backlog) jadi pemicu melambungnya harga rumah.

Penulis: Sanusi
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Mahalnya Material Membuat Harga Properti Melambung
Tribunnews/JEPRIMA
Ilustrasi. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mahalnya harga hunian membuat masyarakat sulit memiliki rumah yang layak.

Kemahalan harga material properti dan ketimpangan pasokan rumah (backlog) jadi pemicu melambungnya harga rumah.

Pakar kehutanan dan pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Ricky Avenzora mengatakan untuk mengatasi permasalahan tersebut tentu diperlukan sebuat terobosan mutakhir.

"Bergulirnya isu backlog property dan kemahalan harganya menjadi satu indikator penting untuk menyatakan bahwa supremasi kayu untuk kebutuhan hidup manusia tidak bisa dipungkiri," kata Ricky dalam keterangannya, Rabu (6/9/2017). 

Ricky mengatakan kayu memiliki peran yang tidak terbantahkan bagi kehidupan manusia.

Hal tersebut, harus dijadikan dasar untuk memperbaiki kekeliruan besar yang telah dibuat kurun waktu lima dekade lalu di saat politik lingkungan telah dibiarkan "menghancurkan" wood based industry dan ekonomi Indonesia.

"Atas dasar isu lingkungan yang dihembuskan para antek-antek ecoterorism, kita semua telah gegabah dan over-acting dalam membangun sektor kehutanan kita yang menjadi sumber material penting, murah, dan bersifat renewable untuk membangun rumah bagi rakyat," kata Ricky.

Berita Rekomendasi

Dalam konteks membangkitkan wood based home development, tidak perlu ada keraguan Indonesia memiliki potensi kayu yang lebih dari cukup untuk dipakai membangun perumahan rakyat setiap tahunnya.

Jika dahulu kebutuhan kayu pertukangan selalu diorientasikan untuk dipasok melalui skema hard wood yang umumnya menjadi ciri utama dari produk hutan alam.

Mungkin saat ini berbagai teknologi desain konstruksi, teknologi wood compound, serta pengawetan kayu telah maju sangat pesat untuk mencapai efisiensi penggunaaan kayu secara luas dan murah.

"Jadi, tidak ada alasan lagi mengesampingkan manfaat besar kayu dalam menyokong perumahan," katanya.

Untuk memberdayakan sektor kehutanan bagi pembangunan perumahan rakyat, empat hal penting dan mendesak perlu dilakukan serta diterapkan secara konsisten.

Di antaranya reengineering politik dan kebijakan kehutanan, reengineering politik dan kebijakan tata ruang.

Kemudian reengineering politik dan kebijakan ekonomi kerakyatan, serta mendesain program transisi yang masif serta terukur.

Empat hal itu, dikatakan Ricky, bukan hanya penting dilakukan untuk memberikan kepastian hukum bagi dunia usaha dalam mendesain rencana kerja secara berkelanjutan dan pasti.

Empat hal tersebut menurutnya bisa menyokong industri dan teknologi kayu yang diperlukan untuk mengangtisipasi cepatnya pertumbuhan populasi dan berbagai kebutuhannya.

Menurut Ricky, dalam hal supply capacity ada dua hal penting yang tidak bisa dipungkiri yaitu pembangunan perumahan rakyat telah menjadi sangat mahal.

Serta, pembangunan perumahan rakyat telah kehilangan hakekatnya sebagai satu wujud penting dari tanggungjawab pemerintah untuk menegakkan kesejahteraan serta keadilan sosial.

"Perlu kita sadari bahwa berbagai mining-based material yang dipakai dalam membangun perumahan selama ini adalah tidak hanya menimbulkan efek ekonomi tinggi dalam berkinerja, melainkan juga telah menimbulkan capital flight yang luar biasa besarnya bagi keuntungan bangsa lain," katanya.

Aspek kemahalan harga material properti, menjadikan harga rumah menjadi semakin tidak terjangkau orakyat.

Pada fase berikutnya akan menyuburkan praktek-praktek pembangunan perumahan rakyat yang penuh dengan siasat pemasaran yang tidak bertanggunjawab dan merugikan rakyat dalam hal kualitas rumah yang didapat. 

Pada ruang lain, kata Ricky, menimbulkan efek persaingan usaha perumahan yang sangat tidak sehat.

"Akhirnya, kapitalisasi usaha perumahan hanya dikuasai para pemilik modal besar; yang kemudian pada suatu fase menjadi sangat greedy untuk menguasai lahan, pasar dan mendikte harga perumahan," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas