Tribun Bisnis

Laba Bersih Astra Turun 2 Persen di Triwulan Pertama 2018

Pendapatan bersih konsolidasi Astra meningkat 14 persen menjadi Rp 55,8 triliun pada triwulan I 2018.

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Choirul Arifin
Laba Bersih Astra Turun 2 Persen di Triwulan Pertama 2018
TRIBUNNEWS/SYAHRIZAL SIDIK
Presiden Direktur Astra InternaTional Tbk, Prijono Sugiarto 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Syahrizal Sidik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 4,9 triliun pada triwulan I 2018 atau. Angka tersebut turun 2 persen dari periode yang sama di tahun 2017 lalu yang berada di level Rp 5,0 triliun.

Pendapatan bersih konsolidasi Astra meningkat 14 persen menjadi Rp 55,8 triliun pada triwulan I 2018. Hal itu seiring dengan meningkatnya pendapatan dari bisnis alat berat dan pertambangan serta otomotif.

Kendati demikian laba bersih sektor otomotif tercatat turun 8 persen menjadi Rp 2,1 triliun pada triwulan I 2018 dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 2,2 triliun.

“Penurunan disebabkan karena mulai meningkatnha kompetisi di pasar mobil,” kata Presiden Direktur Astra Internasional, Prijono Sugiarto, saat konferensi pers usai RUPS di Menara Astra, Rabu (25/4/2018) di Jakarta.

Penjualan mobil secara nasional memang meningkat 3 persen menjadi 292.000 unit, namun penjualan nasional mobil Astra turun 12 persen menjadi 142.000 unit. Pangsa pasar Astra juga turun dari 57 persen menjadi 49 persen.

Kendati demikian, untuk volume penjualan alat berat, kontraktor penambangan dan pertambangan diuntungkan dengan meningkatnya harga batu bara.

Baca: Bocor! Presiden Jokowi Gelar Pertemuan dengan Alumni 212 di Istana Bogor Hari Minggu

Baca: Isuzu Traga Siap Merangsek Industri Ritel Indonesia

Tercatat, laba bersih di sektor ini meningkat 68 persen pada triwulan I 2018 menjadi Rp 1,5 triliun dari posisi yang sama di tahun sebelumnya Rp 902 miliar.

“Grup Astra diperkirakan akan terus mendapat keuntungan dari harga batu bara yang stabil,” imbuh dia.

Sebagai catatan, nilai aset bersih per saham pada akhir Maret 2018 naik 4 persen dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2017.

Ada pun nilai utang bersih di luar grup jasa keuangan mencapai Rp 2,4 triliun dibanding nilai kas kas bersih Rp 2,7 triliun pada akhir Desember 2017, terutama disebabkan oleh investasi perseroan di jalan tol, suntikan modal ke Go-Jek dan belanja modL pad bisnis kontraktor penambangan.

Untuk anak perusahaan grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 44,8 triliun dibanding posisi akhir 2017 di angka Rp 46,1 triliun.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas