Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Pemerintah Membantah Inflasi Rendah karena Lesunya Daya Beli

IHK mengalami inflasi menunjukkan masih adanya kenaikan harga akibat tarik menarik antara penawaran dan permintaan.

Pemerintah Membantah Inflasi Rendah karena Lesunya Daya Beli
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
ilustrasi: Warga berbelanja telur ayam di gelaran Pasar Murah Pengendalian Inflasi Jabar 1439 H yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat di Stasiun Kiaracondong, Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Senin (4/6/2018). Pasar murah yang akan berlangsung hingga 6 Juni 2018 itu menyediakan beragam sandang dan pangan untuk kebutuhan Ramadan dan Lebaran dengan harga di bawah pasar. Serta menyediakan tempat penukaran uang pecahan. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia menampik adanya isu tingkat inflasi inti pada Mei 2018 yang lebih rendah dari periode tahun sebelumnya, lantaran daya beli masyarakat yang menurun.

Seperti diketahui, pada Mei 2018 berdasarkan laporan BPS terjadi inflasi sebesar 0,21 persen. Namun, tingkat inflasi inti pada Mei 2018 sebesar 2,75 persen, lebih rendah dari tahun lalu sebesar 3,61 persen.

Anggapan inflasi rendah tersebut juga terlihat dari inflasi pada periode Ramadan yang harusnya lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Tercatat, pada periode Ramadan 2017, tingkat inflasi pada Mei hingga Juni sebesar 0,39 dan 0,69 persen.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan Adriyanto menyatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi menunjukkan masih adanya kenaikan harga akibat tarik menarik antara penawaran dan permintaan.

“Kami tidak melihat ada pelemahan daya beli, kita sudah melihat di pasar ritel sudah cukup ramai, kalau dibandingkan atar tahun relatif,” kata dia di Gedung Bank Indonesia, Selasa (6/6/2018).

Sementara itu, Asisten Deputi Moneter Kementerian Koordinator Perekonomian Edi P Purnomo, menilai, permintaan masyakat juga tetap tinggi, hal tersebut ditandai dengan adanya kenaikan harga sejumlah indeks pengeluaraan. Namun, kata dia, preferensinya masyarakat saja untuk berbelanja yang berubah, terlebih libur Lebaran tahun ini lebih panjang.

“Libur sekarang lebih panjang, mungkin masyarakat lebihmemilih mudik daripada belanja, masih ada kenaikan di harga berarti bukan ada pelemahan daya beli karean muncul permintaan di pasar,” jelasnya.

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas