Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Masih Dibayangi Sentimen Krisis Turki, IHSG Kembali Melemah

Laju Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan perdagangan sore ini, Selasa (14/8/2018) ditutup melemah 91,37 poin atau 1,55 persen

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Sanusi
zoom-in Masih Dibayangi Sentimen Krisis Turki, IHSG Kembali Melemah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan beraktivitas di dekat tayangan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan perdagangan sore ini, Selasa (14/8/2018) ditutup melemah 91,37 poin atau 1,55 persen ke posisi 5.769,87 poin.

Sebelumnya, di awal perdangan, IHSG melemah pada posisi 5.850,71 poin. Meski sempat menguat ke level 5.890,98 persen pada sesi pertama perdagangan, namun laju IHSG melanjutkan pelemahannya hingga penutupan perdagangan.

Hari ini IHSG mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 8,82 triliun dari 10,88 miliar unit saham yang diperdagangkan dengan frekuensi sebanyak 406,432 kali. Sementara, pelaku pasar asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp 783,4 miliar.

Sebanyak 114 saham menguat, 266 saham melemah dan 110 saham bergerak mendatar.

Dari bursa saham Asia, mayoritas berada di zona merah. Indeks Hang Seng misalnya, sore ini ditutup melemah 0,66 persen diikuti pelemahan indeks Shanghai Composite dan Strait Times masing-masing sebesar 0,18 persen dan 0,06 persen. Hanya indeks Nikkei yang menguat, yakni sebesar 2,28 persen.

Sementara, dari bursa saham Amerika Serikat, indeks Dow Jones melemah 0,5 persen. Indeks S&P 500 juga terkoreksi 0,4 persen.

Analis Senior CSA Research Institue Reza Priyambada menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan pelemahan imbas masih adanya kekhawatiran pelaku pasar menanggapi sentimen resesi di Turki.

Rekomendasi Untuk Anda

“Pelaku pasar menanggapi sentimen dari resesi yang terjadi di Turki dengan pelemahan mata uangnya,” kata Reza.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mengasumsikan ekonomi Indonesia akan berpeluang terkena resesi seperti halnya Turki.

Sementara, dari dalam negeri, pada pekan sebelumnya telah dirilis penurunan cadangan devisa dan melebarnya defisit neraca pembayaran hingga berimbas pada pelemahan nilai tukar Rupiah.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas