Terkait Hasil Riset Spire, Gojek : 40 Responden Tidak Mempresentasikan Jutaan Driver Online
GOJEK telah memiliki sistem yang jauh lebih kuat yang mampu menghentikan order fiktif bahkan sebelum sampai ke pengguna aplikasi
Editor:
Eko Sutriyanto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gojek angkat bicara berkenaan dengan hasil riset Spire Research and Consulting terkait dengan driver online.
Michael Reza Say, VP Corporate Affairs Gojek mengatakan, tidak mengetahui metode apa yang digunakan oleh lembaga riset itu.
"Karena 40 sampel responden tidak dapat merepresentasikan jutaan driver online di Indonesia," kata Michel Reza dalam keterangannya kepada Tribunnews, Sabtu (2/2/2019). .
Terkait order fiktif, terang Michel, GOJEK telah memiliki sistem yang jauh lebih kuat yang mampu menghentikan order fiktif bahkan sebelum sampai ke pengguna aplikasi.
"Kami menghimbau agar lembaga riset dapat lebih berhati-hati dalam menyajikan data, agar tidak memberikan informasi menyesatkan yang dapat berdampak kepada jutaan mitra driver dan keluarganya yang mencari nafkah melalui aplikasi online," katanya.
Spire Research and Consulting, belum lama ini melakukan studi terhadap pengemudi dan konsumen mencari tahu preferensi terhadap penyedia layanan transportasi onlinedari berbagai aspek, seperti consumer awareness, frekuensi penggunaan, dan preferensi dalam menggunakan layanan e-money.
Baca: Gojek Kirim Bantuan 15 Ton Berupa Sembako sampai Makanan Bayi untuk Bencana di Sulsel
Survei dilakukan terhadap 40 pengemudi dan 280 konsumen atau pengguna yang dipilih secara acak dalam skala nasional.
Berdasarkan hasil survei “Consumers’Awareness” yang dilakukan Spire Research and Consulting, 75% dan 61% responden menyebutkan bahwa Grab merupakan merek (brand) yang mereka gunakan dalam 6 dan 3 bulan terakhir. Sementara itu, 62% dan 58% responden memilih menggunakan Go-Jek untuk kategori yang sama dalam 6 dan 3 bulan terakhir.
Melihat data tersebut, konsumen lebih banyak menggunakan Grab, setidaknya hingga kuartal 4/2018.
“Temuan paling menarik dari studi kami adalah adanya kecurangan (fraud)yang cukup besar dan bagaimanapandangan para pengemudi (driver)terhadap hal tersebut,” ungkap Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, di Jakarta, Rabu (30/1/2019).
Spire Research and Consulting memperkirakan sebanyak 30 persen dari order yang diterima Go-Jek terindikasi fraud.
Angka itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan persentase fraud Grab yang diperkirakan hanya 5 persen.
Angka tersebut berdasarkan estimasi jumlah order fraud dibandingkan jumlah total order yang diterima.
Ini merupakan masalah sistematis bagi kedua perusahaan dan terutama, permasalahan yang Go-Jek harus segera atasi.
Baca tanpa iklan