Di 2019, Kemenperin Targetkan 2.685 SMK Terjaring dengan Industri
Airlangga Hartarto menargetkan, pada 2019 sebanyak 2.685 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bekerja sama dengan perusahaan industri guna
Penulis:
Ria anatasia
Editor:
Fajar Anjungroso
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia
TRIBUNNEWS.COM, DEMAK - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menargetkan, pada 2019 sebanyak 2.685 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bekerja sama dengan perusahaan industri guna menciptakan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Hal itu dia sampaikan dalam peluncuran program pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match antara industri dengan SMK untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
"Hingga tahap kesembilan, kami telah melibatkan sebanyak 2.340 SMK dan 861 perusahaan dengan total perjanjian kerja sama mencapai 4.293 yang telah ditandatangani," kata Airlangga di PT. Delta Dunia Sandang Tekstil (Duniatex), Demak, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2019).
"Trget pada tahun 2019, sebanyak 2.685 SMK dapat dibina atau menjalin kerja sama dengan industri," tambahnya.
Sejak diluncurkan pada tahun 2017, program pendidikan vokasi ini telah menjangkau wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, peluncuran program pendidikan vokasi yang link and match antara industri dengan SMK dilakukan penandatanganan sebanyak 585 perjanjian kerja sama, antara 116 perusahaan dengan 391 SMK.
Baca: Kemenperin Bangun Jaringan antara Ratusan SMK dan Industri di Jawa Tengah
Adapun program lainnya yang telah dilakukan guna dapat mencapai target tersebut, yakni melalui pendidikan vokasi berbasis kompetensi dengan konsep dual system di seluruh unit pendidikan milik Kemenperin, memfasilitasi pembangunan politeknik di kawasan industri, serta pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja).
“Kami juga memfasilitasi pembangunan infrastruktur kompetensi melalui SKKNI, LSP dan Sertifikasi Kompetensi, serta pembangunan pusat inovasi dan pengembangan SDM industri 4.0,” jelasnya.
Menurut Airlangga, ketersediaan SDM kompeten akan mendongkrak daya saing industri nasional. Apalagi, mereka yang memahami dan menguasai teknologi digital sesuai kebutuhan di era industri 4.0 saat ini.
“Sehingga dapat memacu sektor industri kita agar lebih kompetitif di kancah global. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0,” ujarnya.
Sementara bagi perusahaan yang berperan aktif dalam pengembangan pendidikan vokasi, Airlangga menambahkan, pemerintah sedang menyiapkan skema insentif fiskal super deductible tax berupa pengurangan penghasilan bruto sebesar 200 persen dari biaya yang dikeluarkan perusahaan.
“Jadi, misalnya perusahaan yang membantu SMK melalui pemberian peralatan dan permesinan dengan investasinya senilai Rp1 miliar, maka akan diberikan super deductible tax sebesar Rp2 miliar dalam periode lima tahun. Selain itu, industri-industri ini juga akan difasilitasi insentif untuk inovasi yang besarnya sampai dengan 300 persen,” paparnya.
Dalam rangkaian kegiatan ini, juga dilakukan pemberian bantuan mesin dan peralatan oleh 18 perusahaan kepada 144 SMK untuk keperluan praktikum.
Selain itu, dilaksanakan pembukaan diklat 3 in 1 untuk industri garmen dan alas kaki dengan jumlah 200 peserta dan penyerahan sertifikat training of trainer (ToT) kepada guru SMK sebanyak 150 orang.
Baca tanpa iklan