Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Aberdeen Optimis Perekonomian dan Pasar Indonesia Masih Positif

berdeen Standard Investments Indonesia mengapresiasi pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang berjalan lancar.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Sanusi
zoom-in Aberdeen Optimis Perekonomian dan Pasar Indonesia Masih Positif
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ilustrasi: Karyawan beraktivitas di dekat tayangan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Aberdeen Standard Investments Indonesia mengapresiasi pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang berjalan lancar.

Perusahaan manajer investasi global asal Inggris yang masuk dalam FTSE100 ini menilai, lancarnya pelaksanaan Pemilu pada 17 April 2019 lalu cukup memberikan angin segar bagi investor untuk melanjutkan investasinya di Indonesia.

President Director Aberdeen Standard Investments Indonesia Omar S Anwar, mengatakan saat ini, pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan seperti tahun sebelum, di GDP 5,2 persen. Dengan Pemilu 2019 yang sudah berjalan kondusif, kita tinggal menunggu pengumuman resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tanggal 22 Mei nanti.

"Struktur kabinet pemerintah merupakan salah satu faktor penentu pergerakan indeks. Di sisi lain, ada hal yang harus diwaspadai dan antisipasi untuk stabilnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dan kedepan, yaitu defisit transaksi berjalan. Secara keseluruhan Indonesia masih tetap menarik untuk investasi, terutama bagi investor asing,” ujarnya, Kamis (16/5/2019).

Peluang Bagi Indonesia dan Tantangan Eksternal

Menjelang pelantikan Presiden di bulan Oktober, 2019, pasar juga sekalian akan menilai susunan kabinetnya. Setelah dilantik nanti, para pejabat negara tersebut akan memiliki tantangan yang cukup besar untuk mencari solusi terbaik bagi perekonomian Indonesia di tengah perang dagang terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan China yang baru saja dimulai.

Investment Director Aberdeen Standard Investments Indonesia Bharat Joshi memperkirakan, perang tarif yang dilakukan oleh dua kutub perekonomian dunia itu tidak akan memberikan dampak langsung bagi Indonesia.

Rekomendasi Untuk Anda

“Kalau kita lihat ke Indonesia, secara langsung tidak akan berdampak besar. Dari sisi ekspor, Indonesia hanya mengekspor batu bara ke China. Saya melihat imbas terbesarnya justru ke inflasi,” jelas Bharat.

Ia menuturkan, jika mata uang dolar AS terus menguat di tengah gejolak perang dagang maka akan terjadi pelemahan di rupiah.

“Kalau rupiah lemah, akan terjadi beban bagi APBN. Banyak harga akan naik karena banyak bahan baku mentah yang diimpor, sehingga akan terjadi lebih banyak inflasi,” katanya.

Untuk itu, ia berharap tim pemerintahan baru akan dapat mempertahankan stabilitas yang saat ini sudah berjalan cukup baik, dan menyiapkan strategi khusus guna meredam kenaikan harga-harga agar imbasnya tidak begitu dirasakan masyarakat.

Salah satu cara untuk meredam gejolak inflasi adalah dengan memastikan suku bunga bisa stabil.

“Kalau inflasi stabil, akan ada kemungkinan untuk bisa menurunkan suku bunga, misal 25 bps. Agar perekonomian Indonesia, terutama di beberapa sektor tertentu, bisa lari lagi,” jelas Bharat.

Ia memperkirakan perang dagang antar kedua negara lebih menciptakan resesi ekonomi teknikal bagi AS dan China. Jika AS terus menaikkan bea masuk produk asal China, maka jumlah barang yang masuk ke AS akan berkurang yang menyebabkan harga naik. Demikian halnya China yang akan kesulitan menemukan pembeli dari produk-produk buatannya.

Dalam perang dagang, pasti akan ada yang menang ataupun akhirnya mengalah. Melihat ketegangan perdagangan global, besar kemungkinan bisnis baru akan mengalir ke Asia Tenggara. Banyak bisnis yang diharapkan mendiversifikasikan rantai pasokan mereka ke ASEAN.

Ini akan memberikan dampak bagi para pemasok lokal untuk mendapatkan manfaat dari pergeseran pesanan ke kawasan tersebut. Dalam hal ini, Indonesia juga berada pada posisi yang baik untuk menangkap peluang.

“Saya melihat di dua skenario ini, Indonesia tetap menang. Kalau ekonomi akan terus berkembang, Indonesia untung. Kalau AS dan China tetap berperang, Indonesia juga tidak perlu menaikkan suku bunga,” paparnya.

Menurut Bharat, sangat penting bagi pemerintah, investor maupun pelaku bisnis di Indonesia untuk bisa melihat perkembangan situasi ekonomi dalam negeri maupun global dari sudut pandang yang positif.

Situasi perang dagang antara AS dan China yang akan menimbulkan risiko inflasi dan gejolak nilai kurs sepanjang tahun ini, menurutnya masih lebih baik dibandingkan situasi yang dihadapi Indonesia tahun-tahun sebelum.

Jika melihat catatan sekitar 3 tahun silam, Indonesia harus menghadapi banyak tantangan mulai dari suku bunga AS yang naik, dominasi dolar terhadap rupiah, harga minyak yang juga naik, inflasi, serta harga batu bara yang turun.

“Itu semua datang dari sentimen. Saya yakin investor itu bukan komputer, tetapi manusia yang sedang ‘wait and see’, menunggu sentimen. Contoh, kalau kamu datang ke kantor negatif, maka semua akan menjadi negatif. Padahal kita seharusnya berpikiran optimis, di saat semuanya berpikiran negatif”, kata Bharat.

Aberdeen Standard Investments Indonesia
Omar S Anwar President Director Aberdeen Standard Investments Indonesia dan Bharat Joshi, Investment Director Aberdeen Standard Investments Indonesia

Target

Dalam 4 tahun terakhir, Aberdeen Standard Investments Indonesia banyak melakukan restrukturisasi dan cukup sukses dalam melakukan turn-around dan mengoptimasi produk2 reksadana equity fund, balance fund, base income, government dan private bond sehingga terus meningkat dari sisi kinerjanya.

Dengan kondisi dalam negeri yang kondusif, serta kepemilikan tenaga profesional dalam bidang investasi yang mumpuni, perusahaan berharap bisa mengembangkan bisnisnya secara tahun ini.

“Tahun ini adalah pondasi kami di Indonesia untuk melompat lebih tinggi lagi secara organik. Dari sisi posisi dalam 2 sampai 3 tahun ke depan kami menargetkan Aberdeen Standard Investments Indonesia untuk bisa masuk dalam posisi 20 besar”, imbuh Omar yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk pada 2010 – 2012 silam.

Ia menghitung, Indonesia memiliki financial asset sebesar Rp 14.400 triliun dengan tingkat penetrasi yang masih rendah, baru sebesar 3 persen, berbanding negara lain seperti Malaysia yang sudah mencapai hampir 40 persen, ataupun Thailand. Asset tersebut masih bisa dioptimasi oleh perusahaan manajer investasi.

“Industri perbankan itu asset portfolionya lebih besar berbanding industri lain. Aset finansial di perbankan hampir 10x lebih besar dari asset finansial di asuransi, bahkan 42x lebih besar dari aset finansial Dana Pensiun. Ini yang kami pelajari tentang segmen pasar di Indonesia dan telah kami tetapkan strategi untuk mengejar targetnya,” kata Omar.

Aberdeen Standard Investments adalah perusahaan global dengan klien yang tersebar di 80 negara serta didukung oleh 50 kantor representatif. Perusahaan ini adalah pengelola aset aktif terbesar di Inggris, menduduki posisi 5 teratas manajer aset yang berkantor pusat di Eropa, dan merupakan salah satu perusahaan pengelola aset aktif terbesar di dunia yang bukan dimiliki oleh Bank.

Hal ini juga memberikan kelebihan karena Aberdeen Standard Investments Indonesia dapat mengadopsi pengalaman serta pendekatan dan penelitian investasi secara global untuk diterapkan di Indonesia.

Sasar Fintech

Sebagai perusahaan global yang dinamis mengikuti perkembangan zaman, Aberdeen Standard Investments Indonesia juga tidak menutup mata akan potensi pengelolaan dana yang datang dari perusahaan Financial Technology (Fintech).

Perusahaan-perusahaan rintisan (startup) di bidang finansial yang tumbuh dan menjamur di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah terbukti memberikan andil yang cukup signifikan dalam pertumbuhan GDP Indonesia. Menurut Omar, ini adalah ceruk pasar yang potensial untuk dijajaki di samping e-platform lain.

“Kami melihat ada peluang dari perusahaan-perusahaan Fintech yang menggunakan sistem e-wallet. Misalnya, dengan bekerjasama dengan marketplace, investor akan dapat mengalihkan dana dan menempatkannya ke produk Money Market T+0 terlebih dahulu. Nantinya dana tersebut bisa dikembalikan lagi sesuai kebutuhan mereka. Sifatnya jadi seperti tabungan karena memberikan fleksibilitas, tapi dengan imbal hasil yang relatif lebih tinggi”, jelasnya.

Baca: Nikmati Sensasi Promo Menginap Liburan Lebaran di Holiday Inn Jakarta Kemayoran

Baca: Anindya Novyan Bakrie Jadi Nahkoda Baru BNBR

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas