Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Perang Dagang AS-China Untungkan Industri Tekstil Indonesia, Kadin : Ekspor Naik 25-30 Persen 

Selain tekstil, ia menyebut ekspor perusahaan ban ke AS turut mengalami peningkatan, serta mendorong adanya relokasi pabrik

Perang Dagang AS-China Untungkan Industri Tekstil Indonesia, Kadin : Ekspor Naik 25-30 Persen 
Vincentius Jyestha/Tribunnews.com
Rosan P Roeslani 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang dagang AS-China ternyata memiliki dampak positif bagi Indonesia. Ketua Umum Kamar Dagang dan lndustri (Kadin) Indonesia, Rosan P Roeslani, mengatakan ekspor tekstil Indonesia ke AS meningkat hingga 30 persen. 

"Tidak semua itu selalu negatif, saya bicara ke teman-teman asosiasi tekstil mereka menyatakan ke saya ekspornya naik antara 25-30 persen. Karena barangnya menjadi lebih menarik dan kompetitif karena yang di sana ada yang kena tarif," ujar Rosan, di kediamannya, Jl Kemang Timur Raya No. 99A, Jakarta Selatan, Kamis (6/6/2019).

Baca: Perang Dagang AS-Cina, Vietnam dan Taiwan Mengeruk Untung

Selain tekstil, ia menyebut ekspor perusahaan ban ke AS turut mengalami peningkatan, serta mendorong adanya relokasi pabrik. 

Mestinya, kata dia, Indonesia turut berkompetisi untuk menarik investasi masuk dari relokasi. Namun demikian, kebanyakan investasi relokasi ini hanya masuk ke Vietnam, Malaysia, Bangladesh, dan ke Thailand. 

Rosan pun mengakui perang dagang belum memiliki dampak yang terlalu besar bagi Indonesia.

Pasalnya, Indonesia masih terlampau kecil menjadi bagian dari global value chain seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand. 

"Tetapi apakah ada dampaknya? Pasti iya. Kenapa? Pertama, ekspor dagang kita itu ke China itu paling besar dibanding negara lain kurang lebih 15-20 persen, ya pasti dampaknya di situ," ucapnya.

Oleh karenanya, Rosan menilai pemerintah perlu segera mencari pasar ekspor baru untuk memperkuat upaya-upaya yang sudah dilaksanakan selama ini.

Baca: Tanggapan TKN Jokowi-Maruf soal Kedua Putra SBY Sowan ke Megawati

"Sebetulnya pemerintah sudah mencoba untuk membuka pasar baru, yang non tradisional, ke middle east, ke negara Afrika dan ke barang-barangnya juga variasinya diperbanyak," kata dia.

"Nah tapi kan itu pasti butuh waktu, tapi kami selalu mencoba untuk buka pasar baru, dan juga menurut saya untuk dagang FTA dan CEPA, itu juga harus diselesaikan ke negara yang memang ekspor kita besar, kita baru selesai dari Australia, kita sedang bicara dengan Eropa, dan mudah-mudahan kita bisa selesai ya mungkin tahun depan, jadi harus ada prioritas juga bicarakan CEPA dan FTA," imbuh Rosan.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas