Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ekonomi Global Bergejolak, Bank Mandiri Minta BI Longgarkan Kebijakan Moneter

Bank Mandiri berharap BI kembali melonggarkan kebijakan moneter guna mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan ekonomi global.

Ekonomi Global Bergejolak, Bank Mandiri Minta BI Longgarkan Kebijakan Moneter
Kompas.com/Mutia Fauzia
Jajaran direksi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di acara paparan kinerja tahun 2018 di Jakarta, Senin (28/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berharap Bank Indonesia (BI) kembali melonggarkan kebijakan moneter guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi global.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan, hal itu mungkin dilakukan jika melihat stabilitas ekonomi Indonesia yang cukup baik, dengan melihat terjaganya angka inflasi dan nilai tukar Rupiah.

"Kami memandang stabilitas ekonomi yang baik, dengan terjaganya angka inflasi dan nilai tukar rupiah, membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter," kata Panji di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Seperti diketahui, bank sentral telah menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7-days reverse repo rate sebanyak dua kali berturut-turut pada Juli dan Agustus 2019 hingga 50 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen.

Menurutnya, pelonggaran kebijakan moneter tersebut angat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, di tengah kecenderungan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan peningkatan ketidakpastian yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca: AM Hendropriyono Punya Kriteria untuk Calon Menhan di Kabinet Jokowi, Ini Penuturannya

Dia menyebutkan sejumlah kondisi yang menekan ekonomi global, seperti pelemahan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Tiongkok dan Negara-negara Uni Eropa, dan ditambah risiko akibat perang dagang AS-China.

Baca: Viral, Komika Ini Sindir Fadli Zon, Sebut Sering Kunker ke Luar Negeri Habiskan Biaya Negara

"Namun demikian, kami optimis stabilitas ekonomi nasional masih terjaga dan masih bisa tumbuh lebih baik dari negara-negara berkembang lainnya pada tahun 2019," ucapnya.

Baca: Ria Irawan Harus Kembali Jalani Terapi Radiasi untuk Cegah Penyebaran Sel Kanker

Hingga akhir 2019, Bank Mandiri memproyeksi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.200-14.300 per dolar AS. Hal ini seiring aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi dan pasar saham masing–masing sebesar Rp116 triliun dan Rp59 triliun.

Sementara, inflasi tahun 2019 diperkirakan sebesar 3,41. Sementara laju inflasi bulanan pada bulan Agustus tercatat sebesar 3,49 persen.

Selanjutnya, neraca perdagangan mulai menunjukkan perbaikan, di mana angka defisit pada periode Januari sampai dengan Juli 2019 berhasil diturunkan menjadi 1,9 miliar dolar AS, menurun dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 3,2 miliar dolar AS.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Ria anatasia
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas