Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ini Usulan Para Ahli Tekstil untuk Geliatkan Industri TPT Nasional yang Lesu

Ikatan Ahli Tekstil Indonesia menilai, angka pertumbuhan tersebut lebih dipengaruhi oleh kenaikan nilai ekspor garment.

Ini Usulan Para Ahli Tekstil untuk Geliatkan Industri TPT Nasional yang Lesu
TRIBUNNEWS/LITA FEBRIANI
Media gathering Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) di Menara Kadin, Jakarta, Senin (9/9/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Lita Febriani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) menyatakan, pencapaian pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil nasional (TPT) di kuartal II 2019 yang mencapai 20,71 persen ini tidak bisa dijadikan patokan gambaran industri TPT saat ini.

Mereka menilai, angka pertumbuhan tersebut lebih dipengaruhi oleh kenaikan nilai ekspor garment.

Sedangkan kondisi yang terjadi di sektor produksi serat, benang dan kain justru memperlihatkan kondisi sebaliknya.

"Pernyataan beberapa pihak bahwa TPT nasional dalam kondisi baik-baik saja itu 100 persen tidak valid," tutur Ketua Umum Ikatsi Suharno Rusdi saat Media Gathering di Menara Kadin, Jakarta, Senin (9/9/2019). 

Baca: Viral, Komika Ini Sindir Fadli Zon, Sebut Sering Kunker ke Luar Negeri Habiskan Biaya Negara

Untuk mengatasinya, Ikatsi memberikan sejumlah opsi solusi untuk menggiatkan kembali industri TPT yang tengah lesu.

Opsi pertama dengan jangka waktu enam bulan ke depan, Ikatsi mengusulkan pemberhentian izin impor TPT, kecuali untuk kepentingan ekspor melalui kawasan berikat dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

Baca: Stroomnet PLN Tawarkan Promo Gratis Berlangganan Internet Sampai 10 Bulan, Ini Caranya

Selanjutnya pemerintah diminta untuk melakukan evisi Permendag No 64 tahun 2017 pada waktu yang sama.

Langkah kedua atau yang disebut Ikatsi sebagai solusi jangka menengah dengan rentang waktu tiga tahun, pemerintah diminta melakukan pemulihan dan penguasaan lasar domestik (Substitusi Impor) melalui penerapan trade remedies.

Solusi jangka panjang dengan waktu 5 tahun ialah peningkatan daya saing untuk mendorong ekspor.

Caranya dengan menjalankan agenda peningkatan daya saing di sektor bahan baku, energi, SDM, teknologi, keuangan dan lingkungan.

"Kita telah menyurati Presiden dan beberapa kementerian terkait untuk memperbaiki keadaan ini," terang Rusdi.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Lita febriani
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas